May 2, 2013
admin

Kuliner Malang : Nasi Buk Matirah


Oleh : Philardi Ogi

Indonesia yang sebagian besar daerahnya memilih nasi sebagai makanan pokok, memiliki banyak makanan khas daerah yang terkadang lahir dari makanan rumahan yang dasarnya nasi dengan lauk tradisional. Contohnya nasi timbel Sunda, nasi Gudeg Jogja, nasi Pecel Jawa Timur, nasi campur Bali. Sedangkan di Madura, ada Nasek Jejen dan juga Nasi Buk.

Nasi Buk, yang sebenarnya diucapkan Nasi Bug, adalah masakan yang lahir di Madura. Namun warung yang terkenal ada di kota Malang, yaitu Nasi Buk Matirah. Nama lengkapnya adalah Warung Nasi Bik Matirah, yang sebenarnya adalah rumah makan yang menjajakan makanan khas Madura.

Nasi Buk standarnya adalah Nasi yang ditemani sayur lodeh nangka, sambal terasi dan seperti kebanyakan masakan madura lainnya, Ditaburi Serundeng. Namun untuk lauknya kita bisa memilih antara potongan daging ayam goreng, empal, babat,sate daging, tahu tempe bacem, dan banyak lainnya. Namun favorit saya adalah Mendol, Paru kering dan Dendeng Ragi.

Mendol merupakan perkedel dari tempe, dengan tekstur kesat mendol sangat cocok untuk menemani basahnya sayur lodeh yang sangat gurih.

Dendeng ragi di Buk Matirah disajikan dengan balutan serundeng dari kelapa parut yang sudah di bumbui. Rasanya sangat gurih. Walaupun dendengnya tebal, namun sangat empuk karena konon dimasak dengan kayu bakar. Sehingga ketika di masak, panasnya merata.

Paru kering atau sering disebut Keripik Paru, bentuknya mirip seperti yang saya temukan di Salatiga. Teksturnya Kering renyah dan memiliki citarasa gurih manis. Sepertinya sebelum di goreng parunya dibumbui terlebih dahulu. Paru kering ini bisa dimakan ala kerupuk, digigit setelah menyuapkan nasi dan lauknya. Atau cara saya, dipotong dan dicampur dengan sayur lodeh dan nasi. Hal ini agar tercampur dengan kuah sayur dan tidak terasa terlalu kering.

Akhirnya saya pun pulang membawa sekantung paru kering yang dijual terpisah seharga Rp 90.000. Dan seminggu kedepannya saya selalu makan malam ditemani si Paru kering dari Buk Matirah.

Warung makan Bik Matirah
Jl. Trunojoyo 10 EF Malang
0341-7703377

Apr 22, 2013
admin

3 Pantai pilihan Mainmakan di Selatan Bali : Pantai Geger, Suluban dan Balangan


Cerita Oleh Philardi Ogi
Foto Oleh Philardi Ogi, Dimas Aska & Deni Febrianto

Bali sepertinya tidak pernah kehilangan daya magisnya. Atmosfirnya selalu saja bisa membawa perasaan yang sama walaupun kita sudah berjuta kali mengunjunginya. Ketika kaki saya menyentuh pulau ini, secara otomatis perasaan menyenangkan itu otomatis muncul,the mood of vacation.

Pantai di selatan Bali selalu menjadi favorit saya. Hampir semua pesisir pantai di Selatan Bali dihadapkan jalan masuknya harus menuruni tebing. Inilah yang menarik, pandangan pertama sudah dihadapkan dengan panorama indah overview pantai dari atas bukit, seolah menciptakan suguhan welcome view kepada pengunjungnya dengan ramah.

Berikut adalah pantai pilihan Mainmakan di Selatan Bali, sebenarnya ada banyak, namun kita pilih tiga yang aksesnya tidak sulit dan yang penting, gratis!.

Enjoy!

1. PANTAI GEGER

Jalan tanah yang saya lalui tidak lebar, mungkin hanya cukup untuk satu mobil. Sebelah kirinya yang adalah rawa yang cukup lebat. Kontras dengan sebelah kanannya yaitu bangunan megah hotel bintang lima terkenal. Dibalik dahan pohon rawa terlihat sekumpulan kera yang mengintip seakan keheranan. Mungkin heran karena belum pernah melihat manusia lebih ganteng dari Nicholas Saputra.

Saya akhirnya pelankan laju sepeda motor, agar suara deru mesin sepeda motor ini tidak menakuti kera yang sedang mengagumi saya. Lagian jalan tanah yang baru diguyur membuat motor ini sedikit terseok. Kan ga asik kalo udah dandan dengan kaos #osella dan celana #dagadu #terpampangnyata #bukanbuaian #bhaaaaayy ini harus belepotan lumpur karena motor tersungkur.

Setelah berjalan seratus meter, mulai telihat garis laut dan mulai terasa angin laut yang menerpa wajah. Senyum saya pun otomatis mengembang, Sepertinya saya menemukan jalan yang benar. Jalan masuk ke pantai Geger.

Sebenarnya ada dua lokasi pantai Geger, satu berada di sebelah Timur dan satu lagi di sebelah Barat. Dipisahkan oleh pura Geger ditengah tengahnya. Pantai sebelah Timur sudah mulai di komersialkan dengan berjejernya warung dengan penyewaan payung pantai. Sedangkan di sebelah barat Pura Geger, adalah pantai Geger yang lebih terisolasi, tak heran karena sebenarnya pantai ini eksklusif “dikuasai” oleh sebuah hotel berbintang lima.

Walaupun keduanya sama memiliki pasir putih besar seperti merica , namun pantai barat lebih menjorok kedalam sehingga kontur bibir pantainya lebih menarik. Dan yang pasti, Pantai Barat ini sepi bukan main! hanya ada saya dan dua orang bule yang sedang berjemur. Sayangnya si Bule keduanga lelaki, kalo salah satu wanita akan saya ajak berkuda dengan bertelanjang dada, mirip video klip nya Michael Bolton.

Bulatan pasir yang besar membuat kaki ini terasa berat, pasir yang seperti merica membuat pantai menjadi gembur. ketika diinjak maka akan amblas sampai dengan mata kaki. Sandal jepit lima belas ribuan yang saya beli di Kuta sebelumnya pun tinggal kenangan, putus karena tertahan pasir. Pahit!.

“Mending jalan telanjang kaki saja mas” seorang warga lokal menyarankan dengan ramah.

Komang namanya, yang berjalan di belakang saya semenjak dari atas bukit. Ia hendak memancing di pantai ini. “Kalo lautnya sedang surut, banyak ikan yang berenang ke tepian pantai, walupun kecil-kecil” sautnya. ia memancing di pantai ini dengan pancing tradisional. Hanya pancing dengan dari bambu panjang dan diikat seutas tali.

Berenang atau berendam di pantai Geger menjadi relaksasi tersendiri, selain air pantainya yang bersih dan ombak yang relatif tenang, kesunyian pantai ini membuat mood tenang dan tentram. Terlebih Rasa menggelitik di telapak kaki ketika membenamkan kaki di pasir putihnya. Sepertinya setiap terpaan anginnya mampu menghapus penat pikiran satu per satu dari kepala ini.

HOW TO GET THERE:
Dari perempatan Jalan By pass Ngurah Rai – Benoa – kawasan Nusa Dua Bali, beloklah ke kanan dan ikuti petunjuk ek Hotel Nikko, tepat sebelah hotel ada jalan kecil sebagai jalan masuk. Jalan masuk ke pantai harus menuruni bukit.

2. PANTAI SULUBAN

Tangga tanpa pegangan yang saya turuni terbilang curam. Walaupun permukaannya tidak telalu licin, namun anak tangga yang diguyur aliran bekas air hujan yang menuruni bukit ini cukup membuat saya yang takut ketinggian sedikit “parno”. Dua orang bule yang membopong papan selancar di belakang saya pun harus bersabar mengantri menunggu saya yang menuruni anak tangga satu persatu dengan perlahan sambil komat kami membaca doa seperti nenek-nenek.

Setelah masuk ke celah kecil diantar karang besar, saya muncul di sebuah pantai kecil berpasir putih yang dikelilingi tebing. Pesisirnya adalah cekungan karang dengan air yang biru jernih dan tenang, seakan membuat bathtub alami dengan air laut dan terpaan ombak yang sesekali datang menyapa. Ah, sempurna sekali pantai ini untuk berenang-renang ganteng.

Hangatnya air laut di sore hari, sejalan dengan hangatnya penduduk lokal di pantai ini, ketika sedang berfoto-foto saya didekati oleh anak – anak yang menyapa dengan ramah, nampaknya mereka tertarik dengan kamera underwater yang saya bawa.

”Bli, mau coba tangkap belut?” ucap seorang anak bernama Budi yang masih memakai seragam olahraga sekolahnya.

Ajakan yang tidak mungkin saya tolak.

Mereka mencoba menangkap belut dengan cara menombaknya dengan besi panjang yang ujungnya sudah diruncingkan, lalu pada pangkalnya diberi karet sebagai pelontar, cukup tradisional. Saya meminjam kacamata renang Budi untuk ikut mencari, sedangkan urusan menombak diserahkan kepada Ketut, teman Budi yang paling pandai menyelam.

Setelah hampir setengah jam mencari-cari belut laut yang bentuknya saya belum pernah lihat sebelumnya, Ketut dengan cepat menepuk bahu saya ”Bli saya tangkap satu”. Wow, belut sepanjang 30cm berwarna coklat dengan mulut menganga sudah berada ditangan Ketut, dengan tombak yang menancap di badannya. Budi dan kawan-kawannya pun pulang dengan senyum yang lebar.

Tak terasa saya sudah bermain dengan Budi dan kawan-kawannya selama hampir dua jam lebih, dari ajakan menangkap belut sampai foto bareng underwater yang hasilnya blur. Kulit tangan saya sudah mulai keriput, air pun sudah mulai dingin dan langit sudah berwarna kemerahan. Setelah saya pun berpamitan dengan mereka, saya bergegas menaiki bukit untuk menikmati sunset sempurna di pantai ini, beruntung awan sedang bersahabat dan membiarkan matahari terekspos dengan sempurna.

Aah..nothing like a perfect sunset to seal the day..

<

HOW TO GET THERE:
Berkendara ke arah Uluwatu, beloklah di jalan Labuhan Sait, ikuti setelah Pantai Padang-padang, terdapat 2 cabang, ikuti jalan lurus yang berportal.

3. PANTAI BALANGAN

Paman saya, seorang pengelana jadul yang baru saja pulang dari Bali bercerita tentang kunjungannya sebuah pantai yang mengingatkannya akan pantai Kuta di tahun 70-80an.

Kuta jaman dulu itu romantis, semanis lagu pasir putihnya Ande Hehanusa” ucap dia yang mencoba meyakinkan ia adalah seorang flamboyan yang doyan lagu mellow.

Padahal saya tahu, Romantis menurutnya adalah nongkrong seharian bersama teman-teman jomblonya di pantai sambil bernyanyi “No woman no Cry”-nya Bob Marley sepanjang hari sambil menggoda bule-bule bertelanjang dada yang berlalu-lalang. Jauh dari cerita di lagunya Andre Hehanusa.

Saya curiga ia tiba-tiba mengenang kembali masa keemasan pantai Kuta gara gara melihat Bule ber-telanjang dada di pantai ini.

Btw, lagunya Andre Hehanusa itu berjudul “Kuta Bali”, bukan ‘Pasir Putih” ya Om…

Akhirnya sebulan kemudian saya mengunjungi pantai yang ia ceritakan. Pantai Balangan namanya. Terletak di Bukit Ungasan, Pecatu. Pantai ini segaris dengan Pantai dreamland yang sudah yang terkenal itu.

Sama dengan pantai selatan lainnya, untuk memasuki pantai ini kita harus menuruni tebing dengan meniti anak tangga. Sambil disajikan panorama hamparan pasir putih yang seakan terjepit oleh dua tebing dibarat dan Timur pantai ini.

Di sebelah Barat, adalah pantai pasir putih indah dikelilingi gugusan tebing yang tergerus ombak membentuk batuan karang melesak kedalam dan menjadikan relief pantai ini sangat unik. Ujung barat pantai ini seolah diblokade oleh tebing setinggi 20 meter yang ditumbuhi rumput-rumput hijau, di dasarnya karang-karang menciptakan laguna kecil alami yang indah.

Sedangkan sisi timur adalah lokasi yang lebih ramai oleh para surfer dikarenakan ombaknya yang dapat menggulung setinggi lima meter sangat cocok untuk para surfer. Tidak heran disini berdiri beberapa warung yang tidak hanya menyediakan makanan dan minuman, namun juga tempat menginap sederhana bagi para pemburu ombak.

Karakter pasirnya sama seperti pantai Geger, dengan butiran besar dan langsung tenggelam apabila diinjak. Namun perbedaannya adalah di pantai ini pesisirnya dipenuhi karang yang dipenuhi lumut hijau. Membuat perpduan warna biru laut, putih pasir dan hijau kariang yang tertutupi lumut menjadi komposisi yang unik.

Apabila di pantai Suluban dan pantai Geger saya tidak akan melewatkan untuk berendam di hangatnya air laut, di Balangan saya lebih suka hanya nongkrong berleyeh-leyeh di kursi malas tepi pantai sambil ditemani minuman dingin. Sesekali melihat serunya para peselancar yang berhasil menunggangi ombak tinggi dan hilang tergulung ombak.

Saya setuju dengan paman saya, walaupun saya tidak tahu seperti apa Kuta di tahun 70 atau 80an, pantai ini bisa jadi pantai yang romantis. Menikmati pantai ini dengan selonjoran bersama pasangan sambil melamun bebas adalah romantis versi saya. Ditambah lagu “One love” nya Bob Marley yang tersayup-sayup dari radio warung sebelah, sepertinya pantai ini membuat waktu berjalan lambat.

HOW TO GET THERE:
Dari jalan raya uluwatu, pada perempatan setelah melewati GWK, (patoaknnya terdapat swalayan Nirmala) beloklah ke kiri, lalu terus ikuti jalan.

Mar 27, 2013
admin

Kuliner Makassar : Coto Gagak


Oleh Philardi Ogi

“Bukaaan,saya bukan mau ngajakin makan daging burung gagak! Ini namanya aja gagak karena alamatnya ada di jalan gagak.”

Fiuhh…saya sempat mengira teman saya ini ternyata seorang gothic yang memakan soto berisikan daging gagak hitam dengan darahnya sebagai kuah sebagai penyembahan pada jin. Untungnya bukan.

Nama sebenarnya adalah Coto Makassar ”Aroma”, namun lebih terkenal dengan Coto Makassar Gagak, karena terletak di jalan gagak, sama nasibnya seperti pallu basa serigala dan pallu basa onta. Kebayang deh kalo ada restoran enak di jalan Babi, pasti sudah di grebeg oleh ormas.

Pilihan kami ke warung coto gagak ini dikarenakan lidah teman saya yang paling cocok dengan coto gagak. Namun sebenarnya banyak sekali warung coto di kota Makassar yang memiliki ciri khas tersendiri. Coto Nusantara, Coto Ranggong dan Coto Paraikatte adalah warung yang juga terkenal di kota ini, namun sebenarnya citarasanya tidak jauh berbeda, biasanya bisa dilihat dari kuahnya yang lebih encer atau lebih tebal. Enak yang mana?kembali ke selera kita masing-masing.

Coto Makassar atau Coto Mangakasara, seperti kebanyakan makanan Makassar lainnya, bukanlah sahabat untuk ”kaum yang kurang beruntung”, sebutan saya bagi orang yang menderita jantung, darah tinggi dan penyakit yang dapat meningkatkan kadar kolesterol. Coba saja gali kuah coklat pekat yang disajikan, isinya adalah otak, babat, usus dan daging sapi. Sadis!.

Disajikan dalam mangkuk kecil, Coto ini memiliki daging yang empuk, tak heran memang daging dan jeroannya direbus beberapa lama agar lebih lunak, lalu di potong-potong kecil dan dicampur bersama kuahnya yang sudah dimasak terpisah. Yang unik adalah citarasa kuahnya, rempah seperti bawang, ketumbar, daun sereh dicampur dengan kacang tanah yang direbus hingga hancur, membuat daging dan jeroan yang lembut tadi bercampur dengan rasa gurih dari kuahnya.

Sebagai pelengkap tersedia kupat yang sudah dipotong – potong, bisa dimakan dengan dicemplungkan kedalam kuahnya, atau cara saya, dimakan terpisah diselangi kuahnya yang sudah saya kucuri jeruk nipis dan tambahan sedikit kecap manis. Segar!

Mar 4, 2013
admin

Senso-Ji Temple,Tokyo, Jepang.


Oleh : Philardi Ogi

“Selamat pagi!”

seorang nenek penjual souvenir menyapa saya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Saya tersenyum, wajah saya yang mirip Tukul ini ternyata mudah dikenali sebagai orang Indonesia.

“Selamat Pagi” saya menjawab dengan diiringi senyum manis.

Saya berjalan di sebuah jalan bernama Nakamise. Jalan kecil sepanjang kurang lebih 200 meter yang menghubungkan antara Kaminarimon, yaitu pintu masuk dan Hozomon yang merupakan pintu gerbang kedua di Kuil Sensoji, Asakusa, Tokyo.

Nakamise sudah berumur ratusan tahun, jalan ini merupakan salah tempat belanja tertua di Tokyo. Berdiri dari era Shogun Takegawa, berjejer 89 toko kecil di kiri-kanan jalan ini. Di klaim sebagai best spot to buy souvenir di Tokyo, barang yang disajikan disini tentu saja tidak jauh dari oleh-oleh khas Jepang. Sebut saja, boneka Jepang, gantungan kunci, magnet, sampai baju kimono dan pedang samurai.


Mata saya jelalatan. Mencari sesosok seorang berwajah jawa di lautan turis yang bercampur dengan warga lokal. Inilah kenapa saya mengurungkan keinginan untuk mengunjungi toko si nenek tadi. Saya kehilangan teman saya, sebut saja Deni (bukan nama sebenarnya). Seorang lelaki bewajah mirip Azis Gagap dan berkelakuan Olga Syahputra.

Saya memasuki jalan Nakamise berbarengan dengan Deni, namun souvenir cantik yang digantung di sepanjang jalan ternyata manarik perhatian dia. Sedangkan mata saya teralihkan oleh Maria Ozawa look a like yang berseliweran.

Gampang ditebak. Hanya berjalan 50 meter, Kebersamaan kami pun kandas. Dia terhenti di sebuah gerai souvenir sedangkan saya terus berjalan dengan kepala tunduk BUKAN karena rok mini yang lalu lalang.

Masalahnya adalah…

Semua uang yen dikumpulkan di money belt milik Deni. Sebuah kenaikan kasta status ekonomi sementara bagi Deni karena ia punya sebuah money belt. Saya hanya memegang beberapa koin yen kembalian tiket kereta bawah tanah yang hanya cukup membeli Agemanju, sebuah kue dengan isi kacang merah yang empuk.

“Empty wallet is the heaviest luggage for traveler..” ternyata betul adanya. Apalagi ketika kita berada di pusat belanja tradisional.

5 menit kemudian Handphone saya berbunyi…

“Lo dimanaaaaa?” tembak saya tanpa menyapa terlebih dahulu.

gw di kios yang jualan boneka Jepang ama sandal Jepang gitu..”

“Yaelah semua kios disini juga jualan nya kalo ga boneka Jepang, sandal Jepang atau baju Jepang”

“Euuh…Yang sebelahnya jualan makanan Jepang, makanannya kayak kelak telor..”

“Lo kira di kemayoran jualan kerak telor?

“Diatas tokonya ada tulisan kanji Jepang gitu deh..” tambah deni saeakan ucapannya memberi solusi seperti kata-kata Mario Teguh.

“Menurut LO? Yauda ketemu di kuil ujung jalan ini aja ya”. Saya memutuskan telepon untuk menghemat pulsa.

Sensoji terdapat dua kuil, di sebelah kiri dari gerbang Hozomon terdapat pagoda 5 lantai tepat di depan gebang adalah bangunan kuil utama (Kannondo). Pagoda 5 lantai merupakan ikon dari kuil sensoji ini karena bentuknya yang menjulang unik dengan relik Budha di lantai paling atas. Sedangkan kuil utama adalah tempat utama beribadah dimana terdapat patung Bodhisattava yang disembunyikan. Kedua kuil tersebut didirikan tahun 942 oleh Komandan Militer Jepang saat itu yaitu Taira no Kinmasa. Kuil ini Telah direstrukstrurisasi 2 kali pada tahun 1648 dan 1945, karena kebakaran dan perang dunia kedua.


Satu jam kemudian, (ya satu jam untuk berjalan 200 meter!). Deni muncul dengan manisnya membawa beberapa kantung kresek penuh belanjaan.

“Nyet, lo mau lebaranan di Jepang?” saya langsung nyamber.

“Gue kalap nih, abis lucu-lucu semua, jdi gue belanjain sandal buat emak gue, kaos buat abang gue dan kimono temen-temen kantor.”

“Hah?pake duit kita?”

“Eh, ntar gue ganti ya sob beneran deh…” sambil tersenyum manja, tidak enak dipandang.

Saya hanya bisa mesem, ini bukan pertama kalinya dia belanja membabi-buta. Singapur adalah kota dimana kartu kredit saya diambang limit belanja olehnya, setelah sebelumnya sukses melampaui batas kartu kredit atas nama dia sendiri.

“Eh, ini tempat apaan ya?ko kayak tempat ibadah gini? Kita gapapa nih masuk?” Tanya Deni.

Ketika mengajak ke tempat ini, saya mengimingi Deni bahwa Sensoji adalah tempat belanja oleh-oleh khas Jepang. Soalnya kalo embel embelnya udah kuil, pasti dia akan setengah hati datang ke Sensoji. Toh saya tidak bohong juga kan?hehe

Sensoji sebenarnya adalah kuil Budha, Kuil ini terkenal dengan perayaan Matsuri atau Festival Sanja yang merupakan salah satu dari tiga perayaan Shinto terbesar di Tokyo. Perayaan ini untuk mengenang tiga orang yang membangun kuil Sensoji. Biasanya dilakukan di akhir pekan ketiga bulan Mei. Diramaikan dengan parade pagelaran musik dan tari tradisional selama tiga hari.



Deni duduk di tangga kuil sembari membenahi backpacknya agar belanjaan yang bejibun itu dapat dipanggul tanpa urusan tenteng menenteng. Saya hanya bisa tertawa geli tanpa rasa ingin membantu.

“Are you from Indonesia?” Tiba tiba tanya seorang gadis Jepang yang menghapiri Deni yang sedang sibuk mengubek-ngubek backpacknya.

Deni kontan gelagapan, langsung berdiri tanpa mengindahkan isi daleman tas yang berhamburan. Celana dalam, handuk dan semua jimat terpapar jelas.

“Euh..im from Jakarta, Indonesia” jawab deni gugup.

“Oh, apa kabar..” si gadis langsung sumringah.

“Alhamdulillah baik”, sambil tertawa seakan lawan bicaranya seorang muslim.

“Bisa bicara bahasa Indonesia?” Tanya Deni langsung

“Bahasa, Sedikit”..ujarnya “I’ve been study in Bandung for a month, student exchange in Padjajaran University”

“Oooh pernah ditukeer” ujar deni

“Excuse me?”

“Oh no no, I mean, Bandung is my hometown actually” ujar Deni, berbohong.

Deni sebenarnya asli Tegal. Alasan dia berbohong adalah modus. Ia ingin percakapannya mengalir, maklum gadis Jepang itu cantik. Mirip Asmirandah dengan rambut bergelombang, berbalut busana musim dingin yang terlihat sophisticated. Kesempatan tidak akan datang dua kali kawan.

Saya sebagai sahabat sejati, melipir menjauh pura-pura berfoto. Mencoba membaca situasi. Its on the Bro code book, trust me.

Setelah 5 menit berbincang, ia pun berlari kecil ke arah saya yang sudah lama memperhatikan dia dari jauh.

“Sob, gue tinggal lo ya, gue diajakin ngopi di starbucks deket sini ama si cewe Jepang, cakep sooob kayak Yuni shara digulain, ini belanjaan yang ga bisa masuk ransel gue titip sama elo ya” ujarnya, yang sekarang merasa seganteng Raffi Ahmad

Mampus. Kesetiaan persahabatan kami pun diuji kembali. Jelas ini sudah melanggar Bro code.

“Laaah, trus gue nunggu dimanaaa?”

“disini aja sob, ketemuan ama gue sejam lagi ya, elo makan aja dulu, tuh kelak telor kayaknya enak” sambil langsung berlari kecil ke arah gadis tadi.

Satu jam lagi. Artinya dua sampai tiga jam menurut waktu Indonesia Deni.

Aaah tak apalah, saya juga masih ingin menikmati kuil Sensoji ini, mencicipi kue yang dibilang Deni kerak telor, atau belanja oleh-oleh di gerai nenek yang menyapa saya tadi.

Eh sebentar..

Duitnya kan ada di money belt Deni!.

Kampreeettt!.

Feb 20, 2013
admin

DONATEE : Donasi Melalui T-Shirt!

Apa itu DONATEE?
Donatee adalah sebuah proyek donasi yang dikemas dalam penjualan kaos T-shirt yang digagas oleh beberapa Traveler melalui mainmakan.com. dengan membeli kaos ini, otomatis pembeli akan menjadi donatur dari keuntungan kaos tersebut. seperti slogan kami, WE WEAR WE SHARE.

Bagaimana bentuk donasinya?
Misi dari Donatee adalah turut membantu pihak-pihak yang dan berada dekat dengan destinasi wisata namun kualitas kehidpannya masih kurang layak. contohnya untuk kaos edisi pertama (DONATEE I) seluruh donasi akan ditujukan kepada sebuah SD di Kampung Komodo, Flores NTT seperti kami tulis disini. Dengan membeli kaos DONATEE seharga Rp 95.000 maka seluruh keuntungan sebesar Rp 60.000/ kaos akan didonasikan.

Design dan materi kaos?
Kaos ini memang diperuntukan buat traveling, maka dari segi bahan kami memilih bahan yang tipis supaya adem. Ukuran dibuat slim fit (pas di badan) agar traveler bisa mudah bergerak. Dan design mengenai satu tema : INDONESIA.
Jadi keuntungannya selain donasi dan tampil keren adalah berpartisipasi mempromosikan Indonesia dengan memakai kaos ini.

Jumlah dan Ukuran
karena ini proyek kecil-kecilan maka sementara ini kaos hanya ada dalam jumlah terbatas, (mengingat modal yang terbatas hehe). Ukuran sekarang hanya tersedia dalam 3 pilihan :
Ukuran Cowo : M dan L
Ukuran Cewe : M.
Panduan ukuran seperti dibawah, mohon diperhatikan karena ukuran M dan L tidak selalu sama, dan kaos body fit jadi menempel di badan (tidak loose).

Cara pemesanan
1. Prefer COD, biar nambah kenalan. Namun karena kesibukan seorang buruh maka kami hanya bisa melayani COD Jakarta Utara untuk saat ini.
2. Dikirim melalui Tiki/JNE/Pandu Siwi Sentosa dengan Biaya kirim GRATIS Nasional.

HARGA : Rp 95.000
Pembayaran melalui transfer ke :

Bank Permata syariah
Atas nama : Ogi Philardi
No rek : 970195416

Lalu setelah transfer diinfokan melalui email : info@mainmakan.com atau sms ke 087823202052 dengan menulis data pengirim seperti dibawah :
Nama :
Nama rekening yang transfer :
Alamat:
No telp :
Ukuran dan tipe Kaos :

CONTOH :
Nama : BRAD PITT
Nama rekening yang transfer : ANGELINA JOLIE
Alamat: HOLLYWOOD RAYA no 1
No telp : 1239898xxx
Ukuran dan tipe Kaos : M COWO

STOCK UPDATE per 26 MARET :
M COWO : 6 pcs
L COWO : 5 pcs
M CEWE : 6 pcs

Dan inilah Penamakan kaos DONATEE edisi pertama! Semoga suka yaa
Design by Ginda sonagi -@gindasonagi

Design Muka :

Kalo Dipakai (cowo)

Mudah digulung untuk hemat packing ( Handphone buat referensi ukuran, bukan ikutan dijual hehe)

PANDUAN UKURAN :

Feb 4, 2013
admin

Gili Laba, Flores, Nusa Tenggara Timur


Oleh : Philardi Ogi

Epic. The scenery is epic.

Saya berdiri di salah satu puncak bukit di Gili Laba, atau beberapa orang menyebutnya Gili Lawa. Sebuah pulau tak berpenghuni di Flores yang bertetangga dengan pulau Komodo yang tersohor itu. Dan saat ini mata saya hampir tak berkedip melihat indahnya pemandanganyang menghadap ke laut.Komposisi warna biru langit, hijau bukit, toska laut menyatu sempurna. Tuhan memang pelukis yang agung, memberikan pemandangan indah dan tanpa cela ini untuk dinikmati.

Pulau ini memiliki lanskap tipikal kepulauan di Flores, dari bibir pantai kontur tanah langsung menjulang membentuk bukit yang bergunduk-gunduk. membuat seakan pegunungan yang langsng menyatu dengan laut. Berbeda dengan pulau Jawa dimana tanah di pesisir pantai yang landai.

Tipikal lainnya adalah bukit yang hampir seluruhnya ditanami tumbuhan berwarna hijau seperti ilalang. Apabila dilihat dari jauh, akan terlihat persis seperti bukit di dunia teletubies. Pada awal hingga tengah tahun di musim penghujan, perbukitan di Gilli Laba berwarna Hijau, namun pada akhir tahun rerumputan berubah menjadi warna kuning keemasan di musim kemarau.

Tersedia jalan setapak untuk treking ringan di pulau ini dengan mengitari beberapa bukit. Hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk melibas jalur ini. Tak perlu takut ada Komodo yang memangsa, Gili Laba bukan habitat Komodo.

Ah, nuff said. Enjoy the picture…

<

Jan 23, 2013
admin

Kuliner Solo : Selat RM Kusuma Sari Vs Selat Viens


Oleh: Philardi Ogi

“Lautan apa yang paling enaak?”

“Jawabnya : Selat Solo!….”

Teka teki lawas ini dilontarkan nyaris 15 tahun lalu oleh kawan saya asli Temanggung dengan logat medoknya. Saya, yang kala itu anak SMP asli sunda yang sedang mencari jati diri (dan pacar tentunya), bengong melihat kawan saya terkekeh-kekeh sendirian.

“Emangnya di Solo ada laut? Selatnya memisahkan antara pulau apa? apa enaknya?” tanya saya dengan lugu dan imut.

Teman saya mendadak terdiam, lalu tawanya semakin mambahana di ruang kelas. Skak mat!.

Dan saya yang kala itu jelmaan Nicholas Saputra, semakin bingung.

Itu pertama kali saya mendengar nama makanan Selat Solo, dari kelakar teman saya yang akhirnya menceritakan dengan menggebu-gebu enaknya makanan yang di adaptasi dari bistik sapi dan salad yang dikawinkan dengan bumbu dan rempah Jawa. Dan sejak saat itu, saya sangat penasaran dengan yang namanya Selat Solo.

Kini setiap saya menyambangi kota Solo, saya selalu tersenyum sendiri karena terlintas bayangan teman saya itu. Ternyata ia benar, selat Solo adalah merupakan makanan yang enak dan berbeda. Pilihan selat di kota Solo sangat banyak dan beragam, tentunya masing-masing citarasa yang tersendiri yang unik. Namun ada dua tempat yang menyajikan selat Solo yang menjadi favorit saya, resto Viens dan Rumah Makan Kusuma Sari.

Resto Vien’s memiliki Selat Solo fushion yang sudah modern dengan citarasa peranakan. Sedangkan RM Kusuma Sari menawarkan Selat Solo yang lebih otentik dan orisinil.

Resto Viens merupakan sebuah warung kuliner bertempat di jalan Hasanuddin dengan hidangan ”selat segar” sebagai jagoannya. Selat segar memiliki dua pilihan yaitu selat daging cacah dan selat Iga. Yang disebut Selat solo lebih cocok dengan Selat daging cacah, Dibandrol harga Rp 7,500 saja.

Viens memang sedikit berbeda dimana dagingnya dihancurkan dan dibuat bulat seperti bakso seukuran jempol. Hidangan Selat ini dilengkapi oleh telur pindang, kentang rebus, daun kol, acar, wortel dan buncis. Ada juga potongan kentang kering yang tenggelam dalam kuahnya.

Karena dagingnya dicacah maka memiliki tekstur yang lembut namun garing di permukaan luar. Dengan kuah berwarna kuning dengan citarasa rempah dan berminyak, menyerupai kuah lontong sayur. Kuahnya sangat gurih dan sangat cocok dengan daging cacahnya.

Selat Solo RM Kusuma Sari Didirikan pada tahun 1990 oleh Ibu Menggung yang legendaris. Sajian Selat Solo di Kusuma Sari memiliki penampilan lebih ber-estetika. Disajikan dengan potongan daging paha sapi ditengahnya dan dikeliilngi oleh kentang rebus, daun selada, wortel, tauge, buncis, potongan tomat dan irisan telor rebus yang melingkar cantik. Ditengahnya tak lupa ditutupi irisan kentang yang digoreng kering. Salah satu yang unik adalah tambahan mayonnaise yang di taruh diatas daun selada. Mayonnaise ini sebenarnya adalah signature dari hidangan Selat Solo, menjadi kan hidangan ini lebih otentik.

Sama dengan Viens, Selat Solo ditulis di menu didengan nama “Salad Segar” dan dibanderol Rp 9.500. Selat RM Kusuma Sari menyajikan Potongan daging sapi yang sangat empuk dengan berserat tanpa lemak. Diguyur kuah gurih ringan dengan citarasa manis segar dengan terkstur encer berwarna coklat keemasan. Nilai plus dari Selat RM Kusuma Sari adalah disediakannya Mayonaise homade yang ditaruh diatas daun selada. Saya suka sekali megoleskan mayonnaise ke serat dagingnya dan mencelupkan daging ke kuahnya. Dimana kuah akan meresap melalui pori-pori serat, jadi ketika digigit, Nyuss! campuran mayonnaise dan kuah yang gurihnya keluar menyatu dari dagingnya. Membuat dagingnya yang juicy bercampur dengan citarasa asam manis mayonaise dan kuahnya yang gurih.

Entah dimana sekarang teman SMP itu sekarang, semoga tercapai cita-citanya menjadi seorang secret agent seperti James Bond, walau wajahnya kala itu lebih cocok jadi pemain Srimulat. Dimanapun kau berada, terima kasih kawan, kau telah berjasa memperkenalkan salah satu kuliner Indonesia yang patut dibanggakan.

Viens
Jl. Hassanudin 115
Telp : 0271 3060020

RM Kusuma Sari
Jl Yos Sudarso 81/ 75
Telp : 0271 656955

Mainmakan travelblog adalah kumpulan cerita perjalanan traveling dan kuliner, merupakan sarana berbagi pengalaman bagi kita semua, ayo ceritakan pengalaman anda. Klik disini untuk lebih lengkapnya

MainMakan Flickr Gallery

We Are Part Of :