May 7, 2012
admin

Sudut Kota : Kyoto, Jepang

Profil Photographer : Resha Kusuma Atmaja (RS Photography) memiliki kecintaan dalam dua hal, otomotif dan fotografi. Passionnya tercermin dalam seluruh kegiatannya, berkerja di perusahaan Otomotif terbesar di Indonesia dan sekarang muali menekuni dunia fotografi secara serius. Mulai dari still photography, Fashion Photography, dan kini mulai melirik Traveling Photography.

May 1, 2012
admin

Pantai Selong Belanak, Lombok, NTB


Oleh : Philardi Ogi

Raut muka teman saya Bowo, berubah drastis ketika ia melihat pantai ini dari kejauhan. “kayaknya masih pasang nih Selong Belanak, ombaknya pasti deras sekali dan ga mungkin untuk berenang disini”. Dengan nada pelan berusaha untuk tidak membuat saya kecewa.

Saya hanya bisa tersenyum, sudah tiga pantai yang kita datangi , Tanjung Aan, Pantai Seger dan kini saya tiba di pantai Selong Belanak. Gelombang sedang pasang di ketiga pantai tersebut dalam tiga hari terakhir, ombak yang menggulung sangat tinggi mustahil untuk saya berenang. Padahal hari ini adalah hari terakhir saya di pulau Lombok, dan Bowo tahu benar saya sangat ingin berendam di salah satu pantai di Selatan Pulau Ini.

Ah,ini adalah buah dari harga diskon periode low season yang menggoda. Januari – Maret memang bukan periode yang baik datang ke Lombok, walaupun tiket pesawat dan hotel bisa dibandrol setengah harga normal. “Angin Barat” begitu penduduk lokal menyebutnya, ketika ombak menggulung dengan ganasnya di pantai selatan dan arus dalam air yang mengangkat pasir hingga menutup terumbu karang yang indah di Gili Trawangan. Menurut saya sepertinya Tuhan memang sengaja memberikan waktu istirahat bagi alam dari hiruk pikunya turis manusia yang kadang merusak harmoni alam.

Pantai ini bisa dicapai 20 menit dengan mobil dari bandara International Lombok di Praya. Sebelum memasuki pantai, kita bisa menaiki bukit untuk menikmati panorama indah dari atas bukit Selong Belanak. Pantainya sendiri berbentuk seperti bulan sabit, walaupun hanya sepanjang kira-kira satu kilometer namun pantai ini berada dibalik bukit sehingga memiliki kesan tersembunyi.Pasir yang bersih dan air yang jernih tak usah diragukan lagi, ciri khas pantai selatan Lombok yang indah.

Pada hari biasa, pantai ini cocok untuk berlenyeh-lenyeh dan menikmati sepoi angin dan deburan ombak. Berenang di pantai ini juga menjadi keharusan karena ombaknya yang tenang dan airnya yang jernih. Paduan biru laut, putih pasir dan hijaunya bukit yang mengelilingi pantai ini memanjakan sejauh mata memandang. Selain itu, pengunjung pantai yang hanya segelintir membuat pab]ntai ini lebih eksklusif, entah sampai kapan ini akan bertahan. jalan akses pantai ini yang sulit,dan belum adanya fasilitas pariwisata yang memadai membuat pantai ini kalah pamor dibanding pantai selatan lainnya. Namun kesungian itu menjadikan pantai ini sempurna untuk relaksasi.

Di sebelah barat pantai ini terdapat perkampungan kecil yang bermata pencaharian nelayan. Walau tidak besar namun perkampungan ini terdapat warung yang menyediakan Kopi atau makanan kecil yang disediakan oleh istri-istri nelayan untuk sekedar nongkrong. Tempat yang cocok untuk bercengkrama dengan nelayan setempat yang baru pulang melaut.

Dijalan pulang Bowo kembali meminta maaf karena keiginan saya berenang di panti ini tidak terpenuhi.
“Ga apa Wo, ini berarti saya harus datang lagi ke Lombok” disambut tawa kecil Bowo.

Ya, saya akan datang lagi, ketika alam sudah terbangun dari istirahatnya.

Feb 24, 2012
admin

Kuliner Bangka : Mie Koba


Oleh Philardi Ogi

Apabila anda mengoogling Kuliner Bangka, mungkin menu yang pertama muncul adalah Nama “Mie Koba”.

Koba sebenarnya adalah nama kota kecil di provinsi Bangka –Belitung, tepatnya kabupaten Bangka Tengah. Sedikit cerita, Mie Koba ini ternyata sudah ada selama berpuluh-puluh tahun lalu di kota Koba, namun baru terkenal setelah Bangka menjadi provinsi sendiri melepaskan diri dari Sumatra Selatan. Adalah peran dari Bupati Bangka Tengah yang mempopulerkan Mie Koba melalui pameran dengan membawa nama kabupaten Bangka tengah. Bahkan Nama “Koba” sendiri konon adalah pemberian dari Sang Bupati.

Sudah 3 tahun warung Mie Koba akhirnya buka di Kota Pangkal Pinang, dan dalam 3 tahun itu pula lah ketenaran Mie Koba ini meningkat tajam seperti ketenaran Briptu Norman setelah videonya ditemukan. Tak heran memang Pangkal Pinang sebagai kota terbesar merupakan hub pariwisata pulau Bangka. Terletak di jalan Balai, warung yang buka dari jam delapan pagi sampai jam sepulah malam ini tak pernah sepi.

Menurut penjaja Mie Koja yang aslinya malah dari Bandung (dan saya lupa namanya), mie ini dibuat handmade, secara manual tidak mengandung bahan kimia dan sehingga mie nya lebih kenyal. Sedangkan kuahnya menggunakan kaldu ikan tenggiri yang juga diracik sendiri. Caranya adalah ikan segar
yang direbus sampai matang, ditumbuk halus untuk ditumis. Lalu di rebus kembali agar menjadi kaldu tak lupa menambahkan rempah, seperti pala,cengkeh, dan ketumbar agar tidak bau amis. Lalu ditambahkan gula aren dan kayu manis untuk menambah rasa manis ringan di kuahnya.

Mie Koba disajikan sederhana, sedikit tauge rebus yang disajikan dibawah mie dan taburan goreng bawang dan seledri diatas mienya. Rasanya sudah terbayang, kuah gurih manis dengan citarasa ikan tenggiri yang kental berpadu dengan mienya yang kenyal dan lembut menjadikan paduan yang cocok. Apalagi bila ditambahkan jeruk nipis sebagai penyegar. sadaaap! Meninggalkan piring ini kering tak tersisa. Apalagi kita pun bisa menambahkan telur rebus sebagai pelengkap, terbayang kan mie kenyal disuap bersama potongan telur rebus sembari menyeruput kuah gurihnya.

Dengan harga Rp 10.000, sudah pasti mie ini menjadi pilihan kuliner Bangka. Saya harap kedepannya mie Koba menjadi ikon identitas pulau Bangka yang mulai menggeliat pariwisatanya bersandang bersama pantai-pantainya yang mempesona.

Feb 15, 2012
admin

Kuliner Bukittinggi : Ayam Pop RM Family Benteng


Oleh : Philardi Ogi

Rasa penasaran saya akan rumah makan ini semakin memuncak ketika seorang rekan memberi tahu bahwa disinilah tempat ayam pop dilahirkan, melebihi rasa lapar yang sudah saya pendam semenjak kita meninggalkan kota Padang dengan perut keroncongan.

Ayam pop sebenarnya bukan makanan yang sulit dicari, kita semua tahu ayam Pop sudah biasa menjadi menu di rumah makan padang yang tersebar di seluruh nusantara ini, dan biasanya saya tidak tertarik untuk mencoba menu yang sudah umum. Namun cerita tentang tempat lahir ayam pop ketika di padang bagi saya sama dengan cerita tentang Abbey Road bagi seorang fans The Beatles ketika ia sedang di Inggris. Harus ditebus untuk membunuh rasa penasaran!.

Nama rumah makan itu adalah RM Family Benteng, mungkin namanya diambil karena rumah makan ini pada mulanya terdapat di jalan Benteng Indah, di depan benteng Fort De Kock, sebuah benteng buatan Belanda yang kini menjadi situs wisata Bukittinggi. Kini lebih mudah ditemukan di jalan raya menuju Padang.

Tiba pada jam makan siang dengan perut keroncongan membuat rasa penasaran ini campur aduk dengan rasa lapar, membuat gelisah dan gundah tidak terkira (*lebay mode : on). Namun asiknya rumah makan padang adalah, tidak perlu lama untuk menyajikan seluruh menu di meja makan.

Dari sekian banyak menu yang ada di atas meja, pandangan kami berdua akhirnya tertuju kepada sang mitos legendaris, Ayam Pop. Fisiknya seperti layak ayam pop yang biasa di rumah makan padang lainnya, putih pucat berminyak. Namun rasanya memang lebih unik, Ayamnya terasa lebih gurih, dengan daging ayam kampungnya yang empuk dan kulitnya yang lembut membuat tekstur rasanya sangat pas dengan bumbunya.

Walau menu favorit di rumah makan ini adalah ayam pop dikarenakan cerita tentang tempat lahirnya. Namun terdapat beberap menu lain seperti Ikan gurame bakar, sop dan soto padang yang kuahnya cocok dimakan berselingan bersama ayam popnya.

Sebenarnya ketika melahap hidangannya, rasa penasaran akan predikat tempat lahir ayam pop ini tidak terbesit, Tempat lahir atau bukan, ayam pop di rumah makan ini memang juara. Tak terasa saya sendiri menghabisakan 3 potong ayam sedangkan rekan saya menhabisakan 2 potong ayam, skor 3-2 ini bertahan sampai peluit panjang ditiup,kenyaaang!.

Feb 10, 2012
admin

Kehangatan Desa Pallawa

Oleh : Philardi Ogi
Nek e Rante, begitu ia memperkenalkan dirinya. Setiap orang yang pernah ke desa Pallawa pasti pernah terkesan dengan Nek e Rante yang setiap hari berdiri di depan rumah Tongkonannya untuk menjajakan souvenir khas Toraja. Ia tak segan mengajak kita kedalam Tongkonannya dimana didalamnya sudah berjejer rapi pilihan souvenirnya yang di dominasi tau tau (Boneka personifikasi jenazah). Menurut tukang ojek saya, Nek e Rante adalah nama panggilan yang artinya neneknya-Rante. Bisa jadi cucunya bernama Rante atau juga Rante dalam bahasa toraja artinya “Pelataran duka” dimana biasanya rante adalah tempat ditaruhnya tau-tau setiap makam.

Feb 2, 2012
admin

Mencari makam “Tuhan” di Pere Lachaise, Paris.


Oleh: Nuran Wibisono

Saya menengok ke langit Paris dengan mata terpicing. Srengenge sedang galak melaksanakan tugasnya. Ya, ini musim panas! Semua wajah orang Paris mendadak cerah menebar senyum, walau tetap saja membuat saya jengkel karena setiap ditanya dalam bahasa Inggris, mereka menjawab dengan bahasa Perancis. Saya berdiri di stasiun bawah tanah, memegang peta kota Paris yang sudah lecek karena terlalu sering saya buka tutup, mencari jalur kereta menuju Pere Lachaise.

Tak berapa lama kemudian saya melompat masuk ke dalam metro bernomer 3, menuju Pere Lachaise. Di dalam kereta ada seorang pengamen keliling yang memainkan klarinet dengan merdu. Saya teringat adegan pembuka di video klip The Doors yang berjudul “People Are Strange”, dimana ada seorang tua yang memainkan klarinet sebelum ditimpali suara petikan gitar dan Jim bernyanyi liris, people are strange, when you’re a stranger. Faces look ugly when you’re alone.

Kenapa di tengah siang musim panas yang cerah dan menyenangkan, saya bukannya melancong ke Louvre, Eiffel, atau Notredame, tapi malah ke Pere Lachaise, kompleks pemakaman terbesar di tengah kota Paris? Jawabannya adalah Jim Morrison.

Saya tergila-gila dengan sosok frontman The Doors ini. Saya mengoleksi musiknya, buku tentangnya, posternya, kaos, bahkan skripsi saya pun mengkaji sosok Jim Morrison dalam film The Doors garapan Oliver Stone. Mumpung saya sedang di Eropa, saya akan melaknat diri saya sendiri kalau tak menyempatkan ke Paris dan ziarah ke Pere Lachaise, tempat sang Lizard King dikebumikan.

Pere Lachaise memang dikenal sebagai makam para pesohor. Ada Oscar Wilde, Frederic Chopin, Honore de Balzac, Stiv Bators, Auguste Comte, Isadora Duncan, hingga Edith Piaf. Tak heran kalau sekarang Pere Lachaise telah menjadi objek kunjungan wisata di Paris.

Selepas stasiun Rue Saint Maur saya bersiap. Stasiun Pere Lachaise ada di depan. Lazimnya, wisatawan yang ingin menuju Pere Lachaise berhenti di stasiun Gambetta, lalu berjalan sebentar menuju pintu utama kompleks pepusaraan ini, menuju pusara Oscar Wilde yang terletak di divisi 89, dekat dengan pintu utama. Tapi saya pergi ke kompleks pepusaraan seluas lebih dari 48 hektar ini bukan untuk sowan ke pusara Wilde. Maka saya berhenti di stasiun Pere Lachaise, berjalan sebentar ke luar stasiun, voila, saya langsung bertatapan dengan pekuburan itu.

Setelah membeli peta seharga 2,5 euro, mulailah saya menerka dimana tepatnya divisi 6, tempat pusara Jim Morrison berada.

Setelah berjalan sesuai direksi peta selama hampir 20 menit, sampailah saya di divisi 6. Tapi pencarian saya masih belum selesai. Saya masih harus mencari pusara Jim diantara jejeran pusara-pusara tua yang berlumut. Cahaya matahari hanya mengintip malu dari rimbun pepohonan besar yang rindang. Sesekali terdengar suara kaok gagak yang berisik. Semua kombinasi itu mengingatkan saya pada film horor klasik, The Omen.

Saya berpatokan pada ingatan lama mengenai pusara Jim Morrison. Yang masih terdapat patung Jim buatan Mladen Mikulin. Ternyata saya tak bisa menemukannya. Hampir 15 menit saya mengitari divisi 6, sebelum saya menemukannya.

Akhirnya saya melihatnya dengan mata kepala sendiri, teronggok tersembunyi diantara makam lainnya. Pusara James Douglas Morrison, pria flamboyan yang memiliki banyak alter ego: Jimbo sang pemabuk, Jim Morrison sang penyair, The Lizard King yang magis, dan James Douglas Morrison yang pemalu.

Pusara Jim Morrison tak sama dengan yang saya bayangkan. Tak ada lagi patung, tak ada lagi coretan-coretan vandal di nisannya. Pusara sang pesohor yang mengundang puluhan ribu orang tiap tahun untuk berziarah itu hanya berupa pusara kecil dan sederhana. Tak jauh beda dengan pusara di sebelahnya, malah lebih kecil. Hanya ada beberapa bunga yang ditaruh di atas pekuburannya, dan beberapa “sesajen” yang ditaruh diatas nisan. Pada nisan, tertulis kalimat berbahasa Yunani, “ΚΑΤΑ ΤΟΝ ΔΑΙΜΟΝΑ ΕΑΥΤΟΥ” yang secara literal dapat berarti “true to his own spirit.”

Saya tak pernah lupa perasaan saya siang itu. Saya duduk bersimpuh di sebelah pusara Jim, mengusap nisannya, lalu berdoa dengan cara lain: memutar “People Are Strange” secara kontinyu. Perasaan saya aneh, susah untuk ditulis. Suasana cukup syahdu walau ada beberapa orang yang riuh, memotret, mencoretkan spidol di pohon depan pusara (karena tak bisa mencorat-coret pusara), hingga memutar lagu The Doors, sama seperti saya.

Saya sendiri merasa diberkahi. Pasalnya adalah saya bisa berfoto di sebelah pusara Jim. Berkali-kali pula. Ketika saya selesai berfoto, muncullah seorang satpam yang lantas marah-marah karena pagar pelindung pusara Jim dibuka. Ia pun mengusir orang-orang yang saat itu sedang asyik berfoto. Ternyata pusara itu dipagari untuk mencegah ulah vandalisme beberapa orang. Ulah vandalisme itu bisa berupa pencongkelan batu nisan Jim, atau corat-coret, tanah makam dikeduk, bahkan patung Jim pun dibawa kabur.

Sejak ulah vandalisme itu semakin menggila, maka pihak Pere Lachaise perlu memasang pagar dan menempatkan satpam. Setelah satpam itu datang, tak ada yang boleh berfoto di sebelah pusara itu. Beberapa orang merengek agar pagar dibuka, tapi sang satpam tak bergeming.

Betapa beruntungnya saya.

Setelah itu saya masih duduk di depan pusara. Selepas 60 menit, saya bangkit dan beranjak pergi. Baru berjalan sekitar 200 meter, ada satu rombongan keluarga dari Amerika bertanya dimana pusara Jim. Daripada saya bingung menjelaskan, saya pun mengantar mereka ke pusara itu. Sepertinya setelah ini saya bakal ditawari pekerjaan sebagai guide di Pere Lachaise.

“Kami dari Florida. Jim Morrison lahir di Florida lho” ujar sang bapak dengan bangga. Saya hanya menimpali dengan senyum.

Perkataan bapak tadi (juga beberapa fans Jim yang saya temui di Pere Lachaise) menyadarkan saya akan sesuatu. Jika kita berbicara tuhan (tuhan konvensional yang biasa disembah), maka kita berbicara ia yang bersifat mono, alias tiap agama punya tuhannya masing-masing. Tapi ketika kita berbicara “tuhan” alias figur yang dipuja layaknya tuhan, maka ia menerobos semua sekat. Baik itu ras ataupun agama.

Jim Morrison adalah salah satunya. Bahkan ketika sudah 40 tahun meninggalkan dunia, masih banyak orang yang datang ke pusaranya, masih banyak pula orang yang menyembahnya.

Dengan diiringi “People Are Strange”, saya berjalan pelan meninggalkan tempat “tuhan” disemayamkan pada 3 Juli, 40 tahun yang lalu. Sore itu musim panas yang hangat. Angin bergemerisik pelan. Pere Lachaise lalu kembali sunyi seiring langkah saya yang semakin jauh…

Profil Penulis :
Nuran Wibisono, pejalan amatir dan penikmat musik bagus. Sekarang sedang bersekolah di Jogja. Bisa ditemui di http://nuranwibisono.blogspot.com

Jan 16, 2012
admin

Desa Pallawa, Tana Toraja


Oleh : Philardi Ogi

“Beautiful” Satu kata itu yang ditulis Sergio Sebmaya, seorang pejalan dari Paris dalam kolom “Kesan-kesan” di buku tamu desa Pallawa. Kebetulan baris yang saya harus isi tepat terletak satu baris dibawah barisnya Sebmaya. Mencermati 2 halaman buku tamu ini, hanya ada 2 orang saja dari Indonesia dari 40an tamu yang datang, sisanya dari mancanegara. “Kalo orang Indonesia biasanya tidak menulis” ujar seorang ibu penjaga buku tamu ketika saya berkomentar mengenai hal tersebut.

Sebmaya sudah beberapa kali mengunjungi Indonesia, dan selalu tertarik akan keragaman budayanya. “Seakan selalu ada budaya yang baru di setiap sudut negeri ini” ucap Sebmaya yang sebelumnya sudah mengunjungi Sumbawa dan Flores.

Desa ini tidak besar, juga terbilang sepi. Tidak banyak aktivitas yang terlihat di desa ini. Hanya ada beberapa anak-anak yang asyik bermain, wanita paruh baya yang menawarkan kerajinan dan kami turis yang asyik menikmati eksotisnya desa ini.

Pallawa adalah salah satu desa Tana Toraja yang terkenal akan barisan Tongkanan (rumah tradisional Toraja) yang masih terjaga kelestariannya walaupun sudah berdiri selama ratusan tahun. Jajaran Tongkanan yang nampak gagah berhadapan dengan jajaran alang atau lumbung padi yang sederhana, membuat aura etnik desa ini menjadi sangat kental.

Salah satu Tongkonan dihiasi tanduk kerbau yang berjajar, mencerminkan betapa gigihnnya keluarga tersebut mengumpulkan uang untuk perayaan Rambu Solo, mengingat harga seekor kerbau sangat mahal, bahkan kerbau yang bertotol merah muda harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Setelah beberapa lama, seorang nenek yang memperhatikan saya sejak pertama datang memanggil saya dari depan rumah Tongkonannya. Ternyata ia menjual kerajinan sebagai tanda mata. Dari jauh, ia membentangkan selembar kain khas Tana Toraja untuk menarik perhatian saya.

Saya hanya tersenyum, “Nek e Rante”, begitu ia menyebutkan namanya. Dengan bahasa Indonesianya yang tidak terlalu jelas, ia pun dengan ramah mengajak saya melihat kedalam tongkonannya,tempat ia menjajakan cendera mata. Kontras dengan tampak luar yang dekoratif dengan ukiran dan pajangan kerbau, dalam Tongkonan sangatlah sederhana, Tongkonan hanya dua sekat yang berdinding kayu.

Tongkonan Nek e Rante memang diperuntukan untuk jualan cindera mata, untuk memberikan pengalaman berbeda dimana kita bisa berbelanja di dalam tongkonan, tawar menawar pun menambah kehangatan antar kami berdua. Berbeda dengan kerajinan di desa Kete Kesu yang lebih bersifat dekoratif seperti ukiran khas Tana Toraja atau miniatur tongkonan, kerajinan di Desa Pallawa lebih berbau etnik. disni lebih banyak dijual miniatur Tau Tau, yaitu patung pasangan yang biasanya disimpan di makam, kalung dari tanduk kerbau, pajangan dari kaki babi dan banyak lainnya.

Pertemuan saya dengan Nek e Rante akhirnya ditutup dengan sesi foto, ternyata ia juga senang di foto, sambil terkadang terkekeh-kekeh melihat hasilnya. Menurut saya foto tersimpan di SD card kamera saya tersebut adalah souvenir sesungguhnya, terlebih perkenalan saya dengan Nek e Rante yang hangat.

Pages:1234567»
Mainmakan travelblog adalah kumpulan cerita perjalanan traveling dan kuliner, merupakan sarana berbagi pengalaman bagi kita semua, ayo ceritakan pengalaman anda. Klik disini untuk lebih lengkapnya