Mencari makam “Tuhan” di Pere Lachaise, Paris.
Saya menengok ke langit Paris dengan mata terpicing. Srengenge sedang galak melaksanakan tugasnya. Ya, ini musim panas! Semua wajah orang Paris mendadak cerah menebar senyum, walau tetap saja membuat saya jengkel karena setiap ditanya dalam bahasa Inggris, mereka menjawab dengan bahasa Perancis. Saya berdiri di stasiun bawah tanah, memegang peta kota Paris yang sudah lecek karena terlalu sering saya buka tutup, mencari jalur kereta menuju Pere Lachaise.
Tak berapa lama kemudian saya melompat masuk ke dalam metro bernomer 3, menuju Pere Lachaise. Di dalam kereta ada seorang pengamen keliling yang memainkan klarinet dengan merdu. Saya teringat adegan pembuka di video klip The Doors yang berjudul “People Are Strange”, dimana ada seorang tua yang memainkan klarinet sebelum ditimpali suara petikan gitar dan Jim bernyanyi liris, people are strange, when you’re a stranger. Faces look ugly when you’re alone.
Kenapa di tengah siang musim panas yang cerah dan menyenangkan, saya bukannya melancong ke Louvre, Eiffel, atau Notredame, tapi malah ke Pere Lachaise, kompleks pemakaman terbesar di tengah kota Paris? Jawabannya adalah Jim Morrison.
Saya tergila-gila dengan sosok frontman The Doors ini. Saya mengoleksi musiknya, buku tentangnya, posternya, kaos, bahkan skripsi saya pun mengkaji sosok Jim Morrison dalam film The Doors garapan Oliver Stone. Mumpung saya sedang di Eropa, saya akan melaknat diri saya sendiri kalau tak menyempatkan ke Paris dan ziarah ke Pere Lachaise, tempat sang Lizard King dikebumikan.
Pere Lachaise memang dikenal sebagai makam para pesohor. Ada Oscar Wilde, Frederic Chopin, Honore de Balzac, Stiv Bators, Auguste Comte, Isadora Duncan, hingga Edith Piaf. Tak heran kalau sekarang Pere Lachaise telah menjadi objek kunjungan wisata di Paris.
Selepas stasiun Rue Saint Maur saya bersiap. Stasiun Pere Lachaise ada di depan. Lazimnya, wisatawan yang ingin menuju Pere Lachaise berhenti di stasiun Gambetta, lalu berjalan sebentar menuju pintu utama kompleks pepusaraan ini, menuju pusara Oscar Wilde yang terletak di divisi 89, dekat dengan pintu utama. Tapi saya pergi ke kompleks pepusaraan seluas lebih dari 48 hektar ini bukan untuk sowan ke pusara Wilde. Maka saya berhenti di stasiun Pere Lachaise, berjalan sebentar ke luar stasiun, voila, saya langsung bertatapan dengan pekuburan itu.
Setelah membeli peta seharga 2,5 euro, mulailah saya menerka dimana tepatnya divisi 6, tempat pusara Jim Morrison berada.
Setelah berjalan sesuai direksi peta selama hampir 20 menit, sampailah saya di divisi 6. Tapi pencarian saya masih belum selesai. Saya masih harus mencari pusara Jim diantara jejeran pusara-pusara tua yang berlumut. Cahaya matahari hanya mengintip malu dari rimbun pepohonan besar yang rindang. Sesekali terdengar suara kaok gagak yang berisik. Semua kombinasi itu mengingatkan saya pada film horor klasik, The Omen.
Saya berpatokan pada ingatan lama mengenai pusara Jim Morrison. Yang masih terdapat patung Jim buatan Mladen Mikulin. Ternyata saya tak bisa menemukannya. Hampir 15 menit saya mengitari divisi 6, sebelum saya menemukannya.
Akhirnya saya melihatnya dengan mata kepala sendiri, teronggok tersembunyi diantara makam lainnya. Pusara James Douglas Morrison, pria flamboyan yang memiliki banyak alter ego: Jimbo sang pemabuk, Jim Morrison sang penyair, The Lizard King yang magis, dan James Douglas Morrison yang pemalu.
Pusara Jim Morrison tak sama dengan yang saya bayangkan. Tak ada lagi patung, tak ada lagi coretan-coretan vandal di nisannya. Pusara sang pesohor yang mengundang puluhan ribu orang tiap tahun untuk berziarah itu hanya berupa pusara kecil dan sederhana. Tak jauh beda dengan pusara di sebelahnya, malah lebih kecil. Hanya ada beberapa bunga yang ditaruh di atas pekuburannya, dan beberapa “sesajen” yang ditaruh diatas nisan. Pada nisan, tertulis kalimat berbahasa Yunani, “ΚΑΤΑ ΤΟΝ ΔΑΙΜΟΝΑ ΕΑΥΤΟΥ” yang secara literal dapat berarti “true to his own spirit.”
Saya tak pernah lupa perasaan saya siang itu. Saya duduk bersimpuh di sebelah pusara Jim, mengusap nisannya, lalu berdoa dengan cara lain: memutar “People Are Strange” secara kontinyu. Perasaan saya aneh, susah untuk ditulis. Suasana cukup syahdu walau ada beberapa orang yang riuh, memotret, mencoretkan spidol di pohon depan pusara (karena tak bisa mencorat-coret pusara), hingga memutar lagu The Doors, sama seperti saya.
Saya sendiri merasa diberkahi. Pasalnya adalah saya bisa berfoto di sebelah pusara Jim. Berkali-kali pula. Ketika saya selesai berfoto, muncullah seorang satpam yang lantas marah-marah karena pagar pelindung pusara Jim dibuka. Ia pun mengusir orang-orang yang saat itu sedang asyik berfoto. Ternyata pusara itu dipagari untuk mencegah ulah vandalisme beberapa orang. Ulah vandalisme itu bisa berupa pencongkelan batu nisan Jim, atau corat-coret, tanah makam dikeduk, bahkan patung Jim pun dibawa kabur.
Sejak ulah vandalisme itu semakin menggila, maka pihak Pere Lachaise perlu memasang pagar dan menempatkan satpam. Setelah satpam itu datang, tak ada yang boleh berfoto di sebelah pusara itu. Beberapa orang merengek agar pagar dibuka, tapi sang satpam tak bergeming.
Betapa beruntungnya saya.
Setelah itu saya masih duduk di depan pusara. Selepas 60 menit, saya bangkit dan beranjak pergi. Baru berjalan sekitar 200 meter, ada satu rombongan keluarga dari Amerika bertanya dimana pusara Jim. Daripada saya bingung menjelaskan, saya pun mengantar mereka ke pusara itu. Sepertinya setelah ini saya bakal ditawari pekerjaan sebagai guide di Pere Lachaise.
“Kami dari Florida. Jim Morrison lahir di Florida lho” ujar sang bapak dengan bangga. Saya hanya menimpali dengan senyum.
Perkataan bapak tadi (juga beberapa fans Jim yang saya temui di Pere Lachaise) menyadarkan saya akan sesuatu. Jika kita berbicara tuhan (tuhan konvensional yang biasa disembah), maka kita berbicara ia yang bersifat mono, alias tiap agama punya tuhannya masing-masing. Tapi ketika kita berbicara “tuhan” alias figur yang dipuja layaknya tuhan, maka ia menerobos semua sekat. Baik itu ras ataupun agama.
Jim Morrison adalah salah satunya. Bahkan ketika sudah 40 tahun meninggalkan dunia, masih banyak orang yang datang ke pusaranya, masih banyak pula orang yang menyembahnya.
Dengan diiringi “People Are Strange”, saya berjalan pelan meninggalkan tempat “tuhan” disemayamkan pada 3 Juli, 40 tahun yang lalu. Sore itu musim panas yang hangat. Angin bergemerisik pelan. Pere Lachaise lalu kembali sunyi seiring langkah saya yang semakin jauh…
Profil Penulis :
Nuran Wibisono, pejalan amatir dan penikmat musik bagus. Sekarang sedang bersekolah di Jogja. Bisa ditemui di http://nuranwibisono.blogspot.com
Mengejar Monster (Heidelberg, Jerman)

Text and Photos : Widyarani
Illustration taken from “Monster” manga by Naoki Urasawa.
One thinks Heidelberg by day—with its surroundings—is the last possibility of the beautiful; but when he sees Heidelberg by night, a fallen Milky Way, with that glittering railway constellation pinned to the border, he requires time to consider upon the verdict.
(Mark Twain, A Tramp Abroad)
Walaupun seorang teman juga pernah merekomendasikan Heidelberg karena keindahannya, saya mengunjungi Heidelberg bukan karena Mark Twain. Saya ke Heidelberg karena karya lain yang lebih populer nge-pop, manga berjudul Monster karya Naoki Urasawa.
Heidelberg adalah kota kecil (109 km2, 150 ribu penduduk) di lembah antara Sungai Neckar dan Sungai Rhine. Kota lama (Altstadt) merupakan deretan bangunan bergaya barok yang dibangun di atas reruntuhan kota abad pertengahan di mana gereja dan balai kota berhadap-hadapan di alun-alun (Marktplatz). Nina Fortner/Anna Liebert, tokoh protagonis dalam Monster, tinggal di kota ini bersama orang tua angkatnya. Saudara kembar Nina, Johan, adalah seorang psikopat yang sedang dilacak jejaknya oleh Kenzo Tenma, dokter bedah yang pernah menyelamatkan nyawa Johan.
Nina adalah seorang mahasiswa hukum di Universitas Heidelberg, universitas tertua di Jerman yang terkenal dengan studi humanioranya. Universitas ini didirikan pada tahun 1938 oleh Elektor Ruprecht I sehingga universitas ini juga dikenal dengan nama Universitas Ruprecht-Karl (Ruprecht-Karls-Universität Heidelberg). Karl Friedrich adalah Adipati Baden yang menetapkan Universitas Heidelberg sebagai milik negara di tahun 1803.
Gedung dengan jam di puncaknya itu adalah gedung universitas lama (Alte Universität), yang merupakan tempat kedudukan rektor dan senat. Gedung-gedung lainnya tersebar di seluruh kota. Fakultas-fakultas humaniora berlokasi di Altstadt, sementara fakultas sains dan kedokteran berlokasi di seberang Sungai Neckar. Walaupun Altstadt, terlebih jalan utama dan pusat belanja Hauptstraße selalu dipadati turis, atmosfer kota pelajar masih sangat terasa. Tempat favorit saya selama di Heidelberg adalah taman kecil di belakang gedung universitas baru, tak jauh dari gedung lama dan Hauptstraße. Tak banyak turis yang tersasar ke sana, dan kita bisa menjumpai mahasiswa yang duduk-duduk membaca atau makan siang atau tidur-tiduran sambil berjemur menikmati matahari dan mendengarkan gemericik air mancur.
Atraksi turis utama di Heidelberg adalah reruntuhan kastil di atas bukit beserta taman dengan pemandangan ke arah kota. Johan meminta Nina untuk datang ke kastil pada hari ulang tahun mereka yang kedua puluh. Sayang ketika saya ke sana, beberapa pekerjaan renovasi sedang berlangsung.
Mengunjungi sebuah kota karena sebuah komik ternyata lebih geek sekaligus lebih tricky dari yang saya bayangkan. Menurut komik, orang tua angkat Nina tinggal di Necker Lane nomer 16. Google Maps memberi tahu saya bahwa di Heidelberg terdapat Neckarhamm dan Neckarweg. Baik -hamm maupun -weg bisa diterjemahkan menjadi Lane. Sayang dua-duanya terdapat di seberang sungai, jauh dari tempat gaul saya. Di Aldstadt saya menemukan Untere Neckarstraße 16. Oh, well…
Lepas dari “petualangan” mencari Nina Fortner, Heidelberg adalah kota yang sangat menyenangkan untuk berkeliling kota dengan berjalan kaki atau bersepeda, menikmati pemandangan dari funicular atau kapal yang melayari Sungai Neckar, serta menyusuri Philosophenweg atau piknik di tepi sungai. Banyak hal tentunya sudah berubah sejak Mark Twain menulis A Tramp Abroad, hampir satu setengah abad yang lalu. Tapi keindahan yang pernah memukau Twain, suasana kota yang hidup, atau bahkan coklat Studentenkuß yang pernah menjadi sogokan favorit para mahasiswa untuk pendamping (chaperone) gadis pujaan mereka, membuat Heidelberg tak terlupakan.
Profil Penulis :
widyarani, Rani, penggemar jalan-jalan dan a writer wannabe. Punya ritual mencari kopi di setiap kota yang baru dia kunjungi. Racauannya, sebagian besar ditulis dalam pengaruh kafein, bisa dibaca di eggophilia.blogspot.com
Rue des Bouchers, Brussel, Belgia
“Are you a moslem? I’m a moslem too. I’m from Egypt. I’m looking for a wife.”
Stania dan saya berpandang-pandangan.
“Uhm… tapi kita kan berdua,” kilah Stania, teman jalan sekaligus tuan rumah saya di Brussels.
“Gak pa-pa. Saya boleh punya empat istri kan?”
Gubrak!!!
Oke, sepertinya ini agak terlalu fast-forward. Mari kita kembali ke awal cerita.
Wikitravel sudah memberikan peringatan tentang jalan ini: Rue des Bouchers/Beenhouwersstraat dan Petite Rue des Bouchers/Korte Beenhouwersstraat (Bruxelles/Brussel adalah kota dengan dua bahasa, Prancis dan Belanda). Sayangnya saya baru membacanya ketika… saya mau menulis ini. Euh… Kami melewati Petite Rue des Bouchers di siang hari ketika mencoba menemukan Janneken Pis (adiknya Manneken Pis) dari arah Grand Place. Pertama-tama, papan-papan bertuliskan menu seharga 12-18 euro-an cukup menggoda. Begitu pula keluarga tangkapan laut segar yang dipajang dengan ceria. Tak lama, para pelayan dari berbagai rumah makan mulai bermunculan dan mencoba merayu kami untuk mampir. Tapi berhubung tujuan utamanya Janneken Pis, kami dengan tegar menolak tawaran-tawaran itu.
Malamnya, dengan tekad mencoba hidangan khas Brussels, kami kembali ke jalan itu. Dan ternyata, pelayan-pelayan di situ semakin ganas di malam hari. Ada yang nawarin minuman gratis lah, nawarin hidangan halal (iyalah secara seafood), dan entah apa lagi. Mendekati ujung jalan, kami masih belum menentukan pilihan. Tak sengaja kami melihat seorang pelayan yang, mengutip Stania, “Mirip Fachri Albar yaaa…” Anehnya, si Mas Fachri ini malah gak kecentilan nawar-nawarin ke kita. Wah, psikologi terbalik gini. Akhirnya kita malah masuk ke restoran Mas Fachri itu.
Restorannya lumayan nyaman, gak terlalu rame dan gak terlalu sepi. Untuk 18 euro, kita dapet hidangan pembuka, hidangan utama, dan pencuci mulut. Untuk minum bayar lagi. Sepertinya lumayan standar. Saya pesan sup tomat dan salmon bakar. Stania pesan salad dan dengan lebih berani mencoba kerang rebus. Penutup mulutnya sama-sama wafel dengan krim.
Sebagai negara yang terletak di tepi Laut Utara, hidangan laut memang menjadi salah satu ciri kuliner Belgia selain wafel, kentang goreng, dan coklat. Di abad ke-19, Rue de Bouchers merupakan sebuah jalan terhormat dengan deretan kafe dan restoran, tempat sastrawan Victor Hugo kerap mampir. Nama jalan ini tentunya terinspirasi dari sejumlah jagal yang membuka toko di situ. Pada abad ke-20, sejumlah kabaret dan tempat hiburan malam mulai menempati lokasi ini. Pada taun 1950-an, Rue des Bouchers bahkan terkenal sebagai tempat gaul para gay. Dan seperti diperingatkan oleh wikitravel, saat ini Rue des Bouchers (dan Petite Rue des Bouchers) merupakan jebakan turis paling terkenal di Brussels.
Dan ternyata kami benar-benar terjebak. Sebenarnya restoran yang akhirnya kami masuki letaknya persis di sebelah Chez Léon, salah satu dari dua restoran yang direkomendasikan semua situs yang tidak merekomendasikan Rue des Bouchers. Restoran yang satunya, Aux Armes de Bruxelles, terletak di sisi lainnya Chez Léon. What (un)luck!
Tapi entah karena lapar atau emang ikan salmon diapa-apain enak aja atau emang selera saya yang gak aneh-aneh, kerasanya kok lumayan enak tuh si salmon bakar. Tapi kerang rebusnya, yang katanya khas Brussels, ternyata emang biasa aja. Hihihi, mungkin itulah bedanya sama restoran sebelah.
Setelah selesai makan dan membayar, kami pun keluar. Tapi sebelum beranjak ke tujuan berikutnya, foto-foto dulu dong. Saat foto-foto itulah Mas Fachri menghampiri.
“Are you a moslem?”
Profil Penulis :
widyarani, Rani, penggemar jalan-jalan dan a writer wannabe. Punya ritual mencari kopi di setiap kota yang baru dia kunjungi. Racauannya, sebagian besar ditulis dalam pengaruh kafein, bisa dibaca di eggophilia.blogspot.com
WHERE ARE YOU GOING?
MainMakan Flickr Gallery
We Are Part Of :
Artikel terbaru MainMakan
- PhotoBlog – Masjid Agung Baiturrahman, Banda Aceh
- Kuliner Malang : Nasi Buk Matirah
- 3 Pantai pilihan Mainmakan di Selatan Bali : Pantai Geger, Suluban dan Balangan
- Kuliner Makassar : Coto Gagak
- Senso-Ji Temple,Tokyo, Jepang.
- DONATEE : Donasi Melalui T-Shirt!
- Gili Laba, Flores, Nusa Tenggara Timur
- Kuliner Solo : Selat RM Kusuma Sari Vs Selat Viens
- Kuliner Jakarta : Soto Betawi H. Husen
- Traveling Video keren di tahun 2012.
- Video : FULL SAIL, Lombok to Komodo
- Kuliner Bandung : Lontong Kari Kebon Karet
- Kampung Komodo, Nusa Tenggara Timur.
- Kuliner Bangkok : Pad Thai Sukhumvit Soi 38
- Pemenang Turnamen foto Perjalanan 6 : KOTA
Blogroll
- 13 – Windy Ariestanty
- alambudaya by Barry Kusuma
- Alissa Everett Photography
- avgustin by Agustinus Wibowo
- Backpacker Borneo
- Backpacker Borneo
- backpacker Notes
- Diego Verges
- duaransel
- Eric Lafforgue
- hifatlobrain by Ayos Purwoaji
- indohoy
- jalanteruus
- Just Hit You
- let's travel somewhere
- Nona Ransel
- Nuran Wibisono
- Pergidulu
- ransel kecil
- ranselkosong
- Swanky Traveler
- Tesya Blog
- the travel photographer
- they draw and travel
- Travel Junkie Indonesia
- ukirsari
- Wesa Jelajah Indonesia
- Wira Nurmansyah



















