3 Pantai pilihan Mainmakan di Selatan Bali : Pantai Geger, Suluban dan Balangan

Cerita Oleh Philardi Ogi
Foto Oleh Philardi Ogi, Dimas Aska & Deni Febrianto
Bali sepertinya tidak pernah kehilangan daya magisnya. Atmosfirnya selalu saja bisa membawa perasaan yang sama walaupun kita sudah berjuta kali mengunjunginya. Ketika kaki saya menyentuh pulau ini, secara otomatis perasaan menyenangkan itu otomatis muncul,the mood of vacation.
Pantai di selatan Bali selalu menjadi favorit saya. Hampir semua pesisir pantai di Selatan Bali dihadapkan jalan masuknya harus menuruni tebing. Inilah yang menarik, pandangan pertama sudah dihadapkan dengan panorama indah overview pantai dari atas bukit, seolah menciptakan suguhan welcome view kepada pengunjungnya dengan ramah.
Berikut adalah pantai pilihan Mainmakan di Selatan Bali, sebenarnya ada banyak, namun kita pilih tiga yang aksesnya tidak sulit dan yang penting, gratis!.
Enjoy!
Jalan tanah yang saya lalui tidak lebar, mungkin hanya cukup untuk satu mobil. Sebelah kirinya yang adalah rawa yang cukup lebat. Kontras dengan sebelah kanannya yaitu bangunan megah hotel bintang lima terkenal. Dibalik dahan pohon rawa terlihat sekumpulan kera yang mengintip seakan keheranan. Mungkin heran karena belum pernah melihat manusia lebih ganteng dari Nicholas Saputra.
Saya akhirnya pelankan laju sepeda motor, agar suara deru mesin sepeda motor ini tidak menakuti kera yang sedang mengagumi saya. Lagian jalan tanah yang baru diguyur membuat motor ini sedikit terseok. Kan ga asik kalo udah dandan dengan kaos #osella dan celana #dagadu #terpampangnyata #bukanbuaian #bhaaaaayy ini harus belepotan lumpur karena motor tersungkur.
Setelah berjalan seratus meter, mulai telihat garis laut dan mulai terasa angin laut yang menerpa wajah. Senyum saya pun otomatis mengembang, Sepertinya saya menemukan jalan yang benar. Jalan masuk ke pantai Geger.
Sebenarnya ada dua lokasi pantai Geger, satu berada di sebelah Timur dan satu lagi di sebelah Barat. Dipisahkan oleh pura Geger ditengah tengahnya. Pantai sebelah Timur sudah mulai di komersialkan dengan berjejernya warung dengan penyewaan payung pantai. Sedangkan di sebelah barat Pura Geger, adalah pantai Geger yang lebih terisolasi, tak heran karena sebenarnya pantai ini eksklusif “dikuasai” oleh sebuah hotel berbintang lima.
Walaupun keduanya sama memiliki pasir putih besar seperti merica , namun pantai barat lebih menjorok kedalam sehingga kontur bibir pantainya lebih menarik. Dan yang pasti, Pantai Barat ini sepi bukan main! hanya ada saya dan dua orang bule yang sedang berjemur. Sayangnya si Bule keduanga lelaki, kalo salah satu wanita akan saya ajak berkuda dengan bertelanjang dada, mirip video klip nya Michael Bolton.
Bulatan pasir yang besar membuat kaki ini terasa berat, pasir yang seperti merica membuat pantai menjadi gembur. ketika diinjak maka akan amblas sampai dengan mata kaki. Sandal jepit lima belas ribuan yang saya beli di Kuta sebelumnya pun tinggal kenangan, putus karena tertahan pasir. Pahit!.
“Mending jalan telanjang kaki saja mas” seorang warga lokal menyarankan dengan ramah.
Komang namanya, yang berjalan di belakang saya semenjak dari atas bukit. Ia hendak memancing di pantai ini. “Kalo lautnya sedang surut, banyak ikan yang berenang ke tepian pantai, walupun kecil-kecil” sautnya. ia memancing di pantai ini dengan pancing tradisional. Hanya pancing dengan dari bambu panjang dan diikat seutas tali.
Berenang atau berendam di pantai Geger menjadi relaksasi tersendiri, selain air pantainya yang bersih dan ombak yang relatif tenang, kesunyian pantai ini membuat mood tenang dan tentram. Terlebih Rasa menggelitik di telapak kaki ketika membenamkan kaki di pasir putihnya. Sepertinya setiap terpaan anginnya mampu menghapus penat pikiran satu per satu dari kepala ini.
HOW TO GET THERE:
Dari perempatan Jalan By pass Ngurah Rai – Benoa – kawasan Nusa Dua Bali, beloklah ke kanan dan ikuti petunjuk ek Hotel Nikko, tepat sebelah hotel ada jalan kecil sebagai jalan masuk. Jalan masuk ke pantai harus menuruni bukit.
Tangga tanpa pegangan yang saya turuni terbilang curam. Walaupun permukaannya tidak telalu licin, namun anak tangga yang diguyur aliran bekas air hujan yang menuruni bukit ini cukup membuat saya yang takut ketinggian sedikit “parno”. Dua orang bule yang membopong papan selancar di belakang saya pun harus bersabar mengantri menunggu saya yang menuruni anak tangga satu persatu dengan perlahan sambil komat kami membaca doa seperti nenek-nenek.
Setelah masuk ke celah kecil diantar karang besar, saya muncul di sebuah pantai kecil berpasir putih yang dikelilingi tebing. Pesisirnya adalah cekungan karang dengan air yang biru jernih dan tenang, seakan membuat bathtub alami dengan air laut dan terpaan ombak yang sesekali datang menyapa. Ah, sempurna sekali pantai ini untuk berenang-renang ganteng.
Hangatnya air laut di sore hari, sejalan dengan hangatnya penduduk lokal di pantai ini, ketika sedang berfoto-foto saya didekati oleh anak – anak yang menyapa dengan ramah, nampaknya mereka tertarik dengan kamera underwater yang saya bawa.
”Bli, mau coba tangkap belut?” ucap seorang anak bernama Budi yang masih memakai seragam olahraga sekolahnya.
Ajakan yang tidak mungkin saya tolak.
Mereka mencoba menangkap belut dengan cara menombaknya dengan besi panjang yang ujungnya sudah diruncingkan, lalu pada pangkalnya diberi karet sebagai pelontar, cukup tradisional. Saya meminjam kacamata renang Budi untuk ikut mencari, sedangkan urusan menombak diserahkan kepada Ketut, teman Budi yang paling pandai menyelam.
Setelah hampir setengah jam mencari-cari belut laut yang bentuknya saya belum pernah lihat sebelumnya, Ketut dengan cepat menepuk bahu saya ”Bli saya tangkap satu”. Wow, belut sepanjang 30cm berwarna coklat dengan mulut menganga sudah berada ditangan Ketut, dengan tombak yang menancap di badannya. Budi dan kawan-kawannya pun pulang dengan senyum yang lebar.
Tak terasa saya sudah bermain dengan Budi dan kawan-kawannya selama hampir dua jam lebih, dari ajakan menangkap belut sampai foto bareng underwater yang hasilnya blur. Kulit tangan saya sudah mulai keriput, air pun sudah mulai dingin dan langit sudah berwarna kemerahan. Setelah saya pun berpamitan dengan mereka, saya bergegas menaiki bukit untuk menikmati sunset sempurna di pantai ini, beruntung awan sedang bersahabat dan membiarkan matahari terekspos dengan sempurna.
Aah..nothing like a perfect sunset to seal the day..
HOW TO GET THERE:
Berkendara ke arah Uluwatu, beloklah di jalan Labuhan Sait, ikuti setelah Pantai Padang-padang, terdapat 2 cabang, ikuti jalan lurus yang berportal.
Paman saya, seorang pengelana jadul yang baru saja pulang dari Bali bercerita tentang kunjungannya sebuah pantai yang mengingatkannya akan pantai Kuta di tahun 70-80an.
“Kuta jaman dulu itu romantis, semanis lagu pasir putihnya Ande Hehanusa” ucap dia yang mencoba meyakinkan ia adalah seorang flamboyan yang doyan lagu mellow.
Padahal saya tahu, Romantis menurutnya adalah nongkrong seharian bersama teman-teman jomblonya di pantai sambil bernyanyi “No woman no Cry”-nya Bob Marley sepanjang hari sambil menggoda bule-bule bertelanjang dada yang berlalu-lalang. Jauh dari cerita di lagunya Andre Hehanusa.
Saya curiga ia tiba-tiba mengenang kembali masa keemasan pantai Kuta gara gara melihat Bule ber-telanjang dada di pantai ini.
Btw, lagunya Andre Hehanusa itu berjudul “Kuta Bali”, bukan ‘Pasir Putih” ya Om…
Akhirnya sebulan kemudian saya mengunjungi pantai yang ia ceritakan. Pantai Balangan namanya. Terletak di Bukit Ungasan, Pecatu. Pantai ini segaris dengan Pantai dreamland yang sudah yang terkenal itu.
Sama dengan pantai selatan lainnya, untuk memasuki pantai ini kita harus menuruni tebing dengan meniti anak tangga. Sambil disajikan panorama hamparan pasir putih yang seakan terjepit oleh dua tebing dibarat dan Timur pantai ini.
Di sebelah Barat, adalah pantai pasir putih indah dikelilingi gugusan tebing yang tergerus ombak membentuk batuan karang melesak kedalam dan menjadikan relief pantai ini sangat unik. Ujung barat pantai ini seolah diblokade oleh tebing setinggi 20 meter yang ditumbuhi rumput-rumput hijau, di dasarnya karang-karang menciptakan laguna kecil alami yang indah.
Sedangkan sisi timur adalah lokasi yang lebih ramai oleh para surfer dikarenakan ombaknya yang dapat menggulung setinggi lima meter sangat cocok untuk para surfer. Tidak heran disini berdiri beberapa warung yang tidak hanya menyediakan makanan dan minuman, namun juga tempat menginap sederhana bagi para pemburu ombak.
Karakter pasirnya sama seperti pantai Geger, dengan butiran besar dan langsung tenggelam apabila diinjak. Namun perbedaannya adalah di pantai ini pesisirnya dipenuhi karang yang dipenuhi lumut hijau. Membuat perpduan warna biru laut, putih pasir dan hijau kariang yang tertutupi lumut menjadi komposisi yang unik.
Apabila di pantai Suluban dan pantai Geger saya tidak akan melewatkan untuk berendam di hangatnya air laut, di Balangan saya lebih suka hanya nongkrong berleyeh-leyeh di kursi malas tepi pantai sambil ditemani minuman dingin. Sesekali melihat serunya para peselancar yang berhasil menunggangi ombak tinggi dan hilang tergulung ombak.
Saya setuju dengan paman saya, walaupun saya tidak tahu seperti apa Kuta di tahun 70 atau 80an, pantai ini bisa jadi pantai yang romantis. Menikmati pantai ini dengan selonjoran bersama pasangan sambil melamun bebas adalah romantis versi saya. Ditambah lagu “One love” nya Bob Marley yang tersayup-sayup dari radio warung sebelah, sepertinya pantai ini membuat waktu berjalan lambat.
HOW TO GET THERE:
Dari jalan raya uluwatu, pada perempatan setelah melewati GWK, (patoaknnya terdapat swalayan Nirmala) beloklah ke kiri, lalu terus ikuti jalan.
Senso-Ji Temple,Tokyo, Jepang.
“Selamat pagi!”
seorang nenek penjual souvenir menyapa saya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Saya tersenyum, wajah saya yang mirip Tukul ini ternyata mudah dikenali sebagai orang Indonesia.
“Selamat Pagi” saya menjawab dengan diiringi senyum manis.
Saya berjalan di sebuah jalan bernama Nakamise. Jalan kecil sepanjang kurang lebih 200 meter yang menghubungkan antara Kaminarimon, yaitu pintu masuk dan Hozomon yang merupakan pintu gerbang kedua di Kuil Sensoji, Asakusa, Tokyo.
Nakamise sudah berumur ratusan tahun, jalan ini merupakan salah tempat belanja tertua di Tokyo. Berdiri dari era Shogun Takegawa, berjejer 89 toko kecil di kiri-kanan jalan ini. Di klaim sebagai best spot to buy souvenir di Tokyo, barang yang disajikan disini tentu saja tidak jauh dari oleh-oleh khas Jepang. Sebut saja, boneka Jepang, gantungan kunci, magnet, sampai baju kimono dan pedang samurai.
Mata saya jelalatan. Mencari sesosok seorang berwajah jawa di lautan turis yang bercampur dengan warga lokal. Inilah kenapa saya mengurungkan keinginan untuk mengunjungi toko si nenek tadi. Saya kehilangan teman saya, sebut saja Deni (bukan nama sebenarnya). Seorang lelaki bewajah mirip Azis Gagap dan berkelakuan Olga Syahputra.
Saya memasuki jalan Nakamise berbarengan dengan Deni, namun souvenir cantik yang digantung di sepanjang jalan ternyata manarik perhatian dia. Sedangkan mata saya teralihkan oleh Maria Ozawa look a like yang berseliweran.
Gampang ditebak. Hanya berjalan 50 meter, Kebersamaan kami pun kandas. Dia terhenti di sebuah gerai souvenir sedangkan saya terus berjalan dengan kepala tunduk BUKAN karena rok mini yang lalu lalang.
Masalahnya adalah…
Semua uang yen dikumpulkan di money belt milik Deni. Sebuah kenaikan kasta status ekonomi sementara bagi Deni karena ia punya sebuah money belt. Saya hanya memegang beberapa koin yen kembalian tiket kereta bawah tanah yang hanya cukup membeli Agemanju, sebuah kue dengan isi kacang merah yang empuk.
“Empty wallet is the heaviest luggage for traveler..” ternyata betul adanya. Apalagi ketika kita berada di pusat belanja tradisional.
5 menit kemudian Handphone saya berbunyi…
“Lo dimanaaaaa?” tembak saya tanpa menyapa terlebih dahulu.
“gw di kios yang jualan boneka Jepang ama sandal Jepang gitu..”
“Yaelah semua kios disini juga jualan nya kalo ga boneka Jepang, sandal Jepang atau baju Jepang”
“Euuh…Yang sebelahnya jualan makanan Jepang, makanannya kayak kelak telor..”
“Lo kira di kemayoran jualan kerak telor?
“Diatas tokonya ada tulisan kanji Jepang gitu deh..” tambah deni saeakan ucapannya memberi solusi seperti kata-kata Mario Teguh.
“Menurut LO? Yauda ketemu di kuil ujung jalan ini aja ya”. Saya memutuskan telepon untuk menghemat pulsa.
Sensoji terdapat dua kuil, di sebelah kiri dari gerbang Hozomon terdapat pagoda 5 lantai tepat di depan gebang adalah bangunan kuil utama (Kannondo). Pagoda 5 lantai merupakan ikon dari kuil sensoji ini karena bentuknya yang menjulang unik dengan relik Budha di lantai paling atas. Sedangkan kuil utama adalah tempat utama beribadah dimana terdapat patung Bodhisattava yang disembunyikan. Kedua kuil tersebut didirikan tahun 942 oleh Komandan Militer Jepang saat itu yaitu Taira no Kinmasa. Kuil ini Telah direstrukstrurisasi 2 kali pada tahun 1648 dan 1945, karena kebakaran dan perang dunia kedua.
Satu jam kemudian, (ya satu jam untuk berjalan 200 meter!). Deni muncul dengan manisnya membawa beberapa kantung kresek penuh belanjaan.
“Nyet, lo mau lebaranan di Jepang?” saya langsung nyamber.
“Gue kalap nih, abis lucu-lucu semua, jdi gue belanjain sandal buat emak gue, kaos buat abang gue dan kimono temen-temen kantor.”
“Hah?pake duit kita?”
“Eh, ntar gue ganti ya sob beneran deh…” sambil tersenyum manja, tidak enak dipandang.
Saya hanya bisa mesem, ini bukan pertama kalinya dia belanja membabi-buta. Singapur adalah kota dimana kartu kredit saya diambang limit belanja olehnya, setelah sebelumnya sukses melampaui batas kartu kredit atas nama dia sendiri.
“Eh, ini tempat apaan ya?ko kayak tempat ibadah gini? Kita gapapa nih masuk?” Tanya Deni.
Ketika mengajak ke tempat ini, saya mengimingi Deni bahwa Sensoji adalah tempat belanja oleh-oleh khas Jepang. Soalnya kalo embel embelnya udah kuil, pasti dia akan setengah hati datang ke Sensoji. Toh saya tidak bohong juga kan?hehe
Sensoji sebenarnya adalah kuil Budha, Kuil ini terkenal dengan perayaan Matsuri atau Festival Sanja yang merupakan salah satu dari tiga perayaan Shinto terbesar di Tokyo. Perayaan ini untuk mengenang tiga orang yang membangun kuil Sensoji. Biasanya dilakukan di akhir pekan ketiga bulan Mei. Diramaikan dengan parade pagelaran musik dan tari tradisional selama tiga hari.
Deni duduk di tangga kuil sembari membenahi backpacknya agar belanjaan yang bejibun itu dapat dipanggul tanpa urusan tenteng menenteng. Saya hanya bisa tertawa geli tanpa rasa ingin membantu.
“Are you from Indonesia?” Tiba tiba tanya seorang gadis Jepang yang menghapiri Deni yang sedang sibuk mengubek-ngubek backpacknya.
Deni kontan gelagapan, langsung berdiri tanpa mengindahkan isi daleman tas yang berhamburan. Celana dalam, handuk dan semua jimat terpapar jelas.
“Euh..im from Jakarta, Indonesia” jawab deni gugup.
“Oh, apa kabar..” si gadis langsung sumringah.
“Alhamdulillah baik”, sambil tertawa seakan lawan bicaranya seorang muslim.
“Bisa bicara bahasa Indonesia?” Tanya Deni langsung
“Bahasa, Sedikit”..ujarnya “I’ve been study in Bandung for a month, student exchange in Padjajaran University”
“Oooh pernah ditukeer” ujar deni
“Excuse me?”
“Oh no no, I mean, Bandung is my hometown actually” ujar Deni, berbohong.
Deni sebenarnya asli Tegal. Alasan dia berbohong adalah modus. Ia ingin percakapannya mengalir, maklum gadis Jepang itu cantik. Mirip Asmirandah dengan rambut bergelombang, berbalut busana musim dingin yang terlihat sophisticated. Kesempatan tidak akan datang dua kali kawan.
Saya sebagai sahabat sejati, melipir menjauh pura-pura berfoto. Mencoba membaca situasi. Its on the Bro code book, trust me.
Setelah 5 menit berbincang, ia pun berlari kecil ke arah saya yang sudah lama memperhatikan dia dari jauh.
“Sob, gue tinggal lo ya, gue diajakin ngopi di starbucks deket sini ama si cewe Jepang, cakep sooob kayak Yuni shara digulain, ini belanjaan yang ga bisa masuk ransel gue titip sama elo ya” ujarnya, yang sekarang merasa seganteng Raffi Ahmad
Mampus. Kesetiaan persahabatan kami pun diuji kembali. Jelas ini sudah melanggar Bro code.
“Laaah, trus gue nunggu dimanaaa?”
“disini aja sob, ketemuan ama gue sejam lagi ya, elo makan aja dulu, tuh kelak telor kayaknya enak” sambil langsung berlari kecil ke arah gadis tadi.
Satu jam lagi. Artinya dua sampai tiga jam menurut waktu Indonesia Deni.
Aaah tak apalah, saya juga masih ingin menikmati kuil Sensoji ini, mencicipi kue yang dibilang Deni kerak telor, atau belanja oleh-oleh di gerai nenek yang menyapa saya tadi.
Eh sebentar..
Duitnya kan ada di money belt Deni!.
Kampreeettt!.
Gili Laba, Flores, Nusa Tenggara Timur
Epic. The scenery is epic.
Saya berdiri di salah satu puncak bukit di Gili Laba, atau beberapa orang menyebutnya Gili Lawa. Sebuah pulau tak berpenghuni di Flores yang bertetangga dengan pulau Komodo yang tersohor itu. Dan saat ini mata saya hampir tak berkedip melihat indahnya pemandanganyang menghadap ke laut.Komposisi warna biru langit, hijau bukit, toska laut menyatu sempurna. Tuhan memang pelukis yang agung, memberikan pemandangan indah dan tanpa cela ini untuk dinikmati.
Pulau ini memiliki lanskap tipikal kepulauan di Flores, dari bibir pantai kontur tanah langsung menjulang membentuk bukit yang bergunduk-gunduk. membuat seakan pegunungan yang langsng menyatu dengan laut. Berbeda dengan pulau Jawa dimana tanah di pesisir pantai yang landai.
Tipikal lainnya adalah bukit yang hampir seluruhnya ditanami tumbuhan berwarna hijau seperti ilalang. Apabila dilihat dari jauh, akan terlihat persis seperti bukit di dunia teletubies. Pada awal hingga tengah tahun di musim penghujan, perbukitan di Gilli Laba berwarna Hijau, namun pada akhir tahun rerumputan berubah menjadi warna kuning keemasan di musim kemarau.
Tersedia jalan setapak untuk treking ringan di pulau ini dengan mengitari beberapa bukit. Hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk melibas jalur ini. Tak perlu takut ada Komodo yang memangsa, Gili Laba bukan habitat Komodo.
Ah, nuff said. Enjoy the picture…
Video : FULL SAIL, Lombok to Komodo
FULL SAIL : Lombok to Flores from mainmakan on Vimeo.
Sharing sedikit mengenai potongan video perjalanan saya berlayar dari Lombok ke Komodo. Bentuknya bukan travel video, hanya menggabungkan beberapa cuplikan yang saya ambil secara random, jadi ga ada cerita atau alurnya. Semoga bisa memberikan gambaran destinasi yang saya singgahi, selamat menikmati!
Video by: Philardi Ogi
Underwater video by: Erland Erlangga
Song : Full Sail, Ryan Farrish
Kampung Komodo, Nusa Tenggara Timur.
Sekelompok anak-anak berpakaian lusuh berdiri di ujung dermaga memandang kami tajam ketika kami turun dari kapal, seolah kami adalah alien. Saya dan rombongan berlabuh di dermaga kampung Komodo, sekitar 20 menit dengan kapal laut dari Taman Nasional Komodo yang tersohor itu. Senyum anak-anak tadi mengembang setelah melihat Indra, ketua rombongan kami. Sepertinya mereka sudah bisa menebak tujuan kedatangan kami. Saya dan kawan-kawan memang berencana menyumbangkan buku pelajaran bekas dan buku mewarnai kepada satu-satunya Sekolah Dasar yang berdiri di kampung ini.
Kampung Komodo tidak besar,terdiri kurang lebih 300 keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Melalui pelatihan yang diberikan PT Putri Naga Komodo, beberapa beralih profesi menjadi pengajin yang patung komodo dari kayu yang di jual di Taman nasional Komodo sebagai sovenir. Dalam sehari seorang pengerajin bisa menghasilkan tiga sampai lima patung komodo dalam bentuk sedang.
Seorang anak menatap saya tajam, tak lama tangannya mengelumit telunjuk saya dan menarik saya untuk meninggalkan dermaga. Seakan mengajak saya untuk memperlihatkan suasana kampungnya. Azis namanya, usianya sekitar 4 tahun. Ia sepertinya tertarik dengan kamera yang saya tenteng. Namun ia tidak berkata sepatah kata pun ketika saya ajak bicara, hanya merespon dengan mengangguk atau menggelengkan kepala sembari tersenyum, entah kenapa. Azis pun terkadang melepaskan tangannya untuk membiarkan saya mengambil foto kampung ini. Dengan sesekali tersenyum dan bergaya mengisyaratkan ia pun objek foto yang tak kalah menariknya.
“Anak anak di kampung ini tidak memiliki cita-cita yang besar. Bagi mereka, mimpinya nanti adalah menjadi seorang Ranger di Pulau komodo” ujar Indra. Azis adalah anak Yatim, almarhum ayahnya dahulu adalah kepada desa ini. Azis sebenarnya anak yang cerdas, terlihat hanya dengan memperhatikan saja dia sudah tahu bagaimana melihat hasil foto di kamera saya. Makannya, saya ingin memperlihatkan bahwa masih banyak perkerjaan yang bisa digeluti, dan mereka punya cita-cita lebih nantinya. sambung Indra lagi.
Anak-anak tadi akhirnya mengekor rombongan kami yang berjalan kearah bangunan SD sederhana. Mereka sangat antusias menerima buku yang kami bawa didampingi oleh guru mereka. Pendidikan di Kampung Komodo dapat dibilang minim, hanya ada sebuah SD dan SMP di kampung ini. Apabila ingin melanjutkan ke SMU, maka harus pindah ke Flores. “Makannya anak-anak di Kampung jarang yang melanjutkan pendidikan setelah SMP” ujar Indra kembali.
Pada sore hari ketika matahari menyirami bukit dengan cahaya keemasannya, masyarakat kampung biasanya berkumpul di depan rumah untuk bercengkrama. Beberapa kepala keluarga terlihat bersiap melaut dengan mengurai jala mereka, terlihat juga ada yang sibuk membuat kerajinan patung komodo di depan rumah.
Rumah di kampung ini semuanya rumah berpanggung dari kayu, dengan jalan dari semen yang seadanya dan genangan air limbah yang tak teratur membuat kampung ini terkesan kumuh. Rumah panggung dibuat agar komodo dan binatang buas lain sulit untuk masuk kedalam rumah. Kolong rumah juga berfungsi untuk menyimpan barang dan kadang untuk tempat bercengkrama.
Sore hari pun menjelang, anak-anak pun kembali mengantar kami kembali pulang ke dermaga. Berbaris rapi melambaikan tangannya dari atas dermaga mengiringi kapal kami yang menjauh. Kami terenyuh, ternyata dibalik kehebohan pemilihan tujuh keajaiban dunia yang digembar gemborkan kepada dunia dan memakan biaya banyak (termasuk pulsa telepon saya). Masih tersimpan keprihatinan dalam taraf hidup masyarakat di dalamnya.
Pulau Kakaban, Kalimantan Timur
“Come Swim with the stingless Jellyfish” begitu judul surat elaktronik yang dikirmkan teman saya.
Sepotong judul dari surat elektronik tadi begitu menggoda hasrat traveling saya, apalagi mengetahui bahwa stingless jellyfish sangat jarang ditemukan, hanya ada 2 tempat di dunia dan salah satunya di negeri sendiri!.
Berenang bersama ubur-ubur yang memang menjadi punchline dari perjalanan saya ke kepulauan Derawan, bahkan sebelum berangkat sudah membayangkan pose foto dalam air bareng si ubur-ubur nantinya. gaya nungging? apa gaya gangnam atau gaya syahrini monyongin bibir?
Ah, semua pikiran narsis itu sirna ketika sudah sampai di danau Kakaban, tidak perlu jauh dari dermaga ke tengah danau untuk melihat ubur-ubur ini, hanya berenang beberapa meter saja saya sudah dikepung oleh ubur-ubur yang ramah. Namun kita harus berhati-hati berenang agar tidak menggangu atau melukai sang ubur-ubur yang rentan ini. Satu kibasan fin dari kaki saya langsung membuat si ubur-ubur terpelanting tidak beraturan. Teman saya lebih parah lagi, niat hati menyentuh bagian bawah ubur-ubur untuk memastikan memang tidak menyegat, eeeh malah membuat badan sang ubur-ubur tercerai berai!hadeeeh.
So, saran saya, berenang berhati-hatilah dan dengan lemah lembut ubur-ubur di pulau ini jumlahnya banyak sekali. Jadi meleng sedikit kita bisa menggangu mereka, gausah terlalu penasaran mengunyek–nguyek ubur-uburnya atau malah membawa mereka keluar dari air.
Namun ternyata pulau Kakaban bukan hanya ubur-ubur saja, sebelum memasuki pulaunya kita dapat snorkeling tidak jauh dari bibir pantai, dimana terdapat satu drop off panjang dan dihuni bermacam-macam karang dan berbagai macam ikan laut. Akan lebih baik snorkeling ketika matahari sedang terik, visibility nya menjadi lebih jelas untuk melihat ikan warna warni yang sembunyi di drop off
Oiya, tidak perlu takut tenggelam apabila bersnorkling di danau Kakaban. Danau ini merupakan endapan air laut yang terperangkap dari letusan gunung ribuan tahun yang lalu!. Ya, ribuan seperti lapisan coklat wafer. Jadi kita akan mengambang seperti di lautan apabila berenang di pulau ini.
Si ubur-ubur kehilangan kemampuan menyengatnya karena sudah tidak ada predator yang memangsa mereka di danau ini, jadilah mereka tidak perlu mempertahankan diri. Makannya jangan sampai kita mengencam kehidupan mereka, nanti kelamaan mereka akan mengaktifkan kembali si sengatnya hehe.
Pulau Sangalaki, Kalimantan Timur
“Semoga kita beruntung dan bisa berenang bareng si hantu laut…” Ujar Indra, ketua rombongan kami ketika perjalanan ke pulau Sanglaki Sangalaki.
Lalu ada hening panjang….
Sebentar…Hantu laut itu apa? Nyi Roro kidul? Deni si manusia ikan? Poseidon? Atau Capt Barbarossa dari film Pirates of Carribean?
“Bukaaan, maksud gw Ikan Manta…”.kata Indra sambil terkekeh setelah saya menanyakan hal tersebut.
Pulau Sangalaki di kepulauan Derawan memang identik akan Ikan Manta dan Penyu. Penyu karena di pulau ini terdapat konservasi penyu dibawah Balai konservasi Sumber daya alam (BKSDA) Kaltim. Kenapa hanya ada di Sangalaki? Sebenarnya hampir di seluruh kepulauan Derawan adalah habitat penyu untuk menetas, bahkan di pulau Derawan yang sudah padat penduduk. Hanya saja pulau Sangalaki adalah tempat paling ramai untuk penyu bertelur. Menurut mas-mas di tempat konservasi (saya lupa namanya karena terlalu ganteng) rata-rata ada 20 ekor penyu bertelur setiap malamnya. Apabila kita berjalan mengelilingi pesisir pantai, masih sering terlihat jejak penyu yang semalam bertelur.
Selain penyu di daratan pulau Sangalaki, di perairan sekitar pulau ini terdapat satu spot dimana acap kali kelompok ikan Manta berputar putar seperti seakan bermain. “Ikan Manta biasanya berkelompok dan dengan sirip yang lebar seakan bergelayutan seperti hantu, makannya kita sebut hantu laut” Ujar Indra lagi.
Dalam perjalanan ke Manta spot saya mendadak menjadi anak sholeh, berkomat-kamit berdoa agar saya yang datang jauh dari Jawa dan para Manta yang sedang bergelayutan di laut dijodohkan untuk bertemu di laut Kalimantan ini. Selayaknya Tuhan mempertemukan KD dari Jawa dan Raul Lemos jauh dari Timor, berjodoh tanpa menghiraukan seluruh norma (jiaaah..).
Alhamdulillah, tidak lama bagi saya menunggu Manta muncul di permukaan. Dengan mengucapkan Bismillah saya langsung nyebur dan mengejar si Manta yang muncul sendirian. Tentu saja dengan skill berenang bekas murid Alan Budikusuma, saya tidak mampu menyaingi kecepatan mereka. Alhasil menunggu lagi di dalam laut untuk mereka muncul.
Mukzizat pun datang, 15 menit berselang akhirnya manta muncul tepat di muka saya!. Dengan gugup saya membabi-buta menjepret sang jodoh idaman dengan kamera underwater pinjaman yang ternyata settingan fokus melenceng. Namun walaupun hasil foto buram, saya merasa seperti orang paling beruntung di dunia saat itu. Manta tersebut muncul tepat di hadapan sampai merasa si Manta akan menabrak, namun sekitar 2 meter di depan saya dia menukik menyelam mengitari badan saya. Perasaan senang dan deg-degan bercampur ketika itu, membuat pengalaman ini tak terlupakan.
Aaaah semoga kita bertemu lagi dilain kesempatan wahai hantu yang cantik.
Eh…maksudnya Manta ya, bukan hantu yang lain…Hiii tiba-tiba jadi merinding..
Pulau Maratua, Kalimantan Timur
Maratua, menurut beberapa orang bilang namanya Maratua berasal dari kata “mertua”. Entah betul atau tidak, namun yang pasti suku Bajau, yaitu suku mayoritas penduduk pulau ini menyebut pulau ini “Malatua”, yang artinya kayu yang biasa digunakan untuk menangkap ikan. Salah satu keunikan maratua adalah reef gardennya yang tidak jauh dari pesisir pantai, dimana terumbu karangnya yang berwarna warni menjadi rumah bagi jutaan ikan yang beragam. Hanya dengan bersnorkling, kita bisa menjumpai Mulusca, krustacea dan mahluk laut lain yang luarbiasa indah.
Selain kehidupan bawah lautnya, saya sangat menikmati berjalan dari dermaga umum mengitari pulau ini, jalan setapak yang bersih dikelilingi tumbuhan yang berwarna warni dan pohon kelapa yang menjulang membuat saya tidak mengidahkan matarhari yang menyengat dari atas kepala. Hamparan pasir putih dari laut yang surut kala itu meninggalkan pola gelombang yang indah,semua itu seakan bersimfoni dengan kicauan burung dari hutan di sisi lain.
WHERE ARE YOU GOING?
MainMakan Flickr Gallery
We Are Part Of :
Artikel terbaru MainMakan
- PhotoBlog – Masjid Agung Baiturrahman, Banda Aceh
- Kuliner Malang : Nasi Buk Matirah
- 3 Pantai pilihan Mainmakan di Selatan Bali : Pantai Geger, Suluban dan Balangan
- Kuliner Makassar : Coto Gagak
- Senso-Ji Temple,Tokyo, Jepang.
- DONATEE : Donasi Melalui T-Shirt!
- Gili Laba, Flores, Nusa Tenggara Timur
- Kuliner Solo : Selat RM Kusuma Sari Vs Selat Viens
- Kuliner Jakarta : Soto Betawi H. Husen
- Traveling Video keren di tahun 2012.
- Video : FULL SAIL, Lombok to Komodo
- Kuliner Bandung : Lontong Kari Kebon Karet
- Kampung Komodo, Nusa Tenggara Timur.
- Kuliner Bangkok : Pad Thai Sukhumvit Soi 38
- Pemenang Turnamen foto Perjalanan 6 : KOTA
Blogroll
- 13 – Windy Ariestanty
- alambudaya by Barry Kusuma
- Alissa Everett Photography
- avgustin by Agustinus Wibowo
- Backpacker Borneo
- Backpacker Borneo
- backpacker Notes
- Diego Verges
- duaransel
- Eric Lafforgue
- hifatlobrain by Ayos Purwoaji
- indohoy
- jalanteruus
- Just Hit You
- let's travel somewhere
- Nona Ransel
- Nuran Wibisono
- Pergidulu
- ransel kecil
- ranselkosong
- Swanky Traveler
- Tesya Blog
- the travel photographer
- they draw and travel
- Travel Junkie Indonesia
- ukirsari
- Wesa Jelajah Indonesia
- Wira Nurmansyah
































































