Browsing articles in "Kuliner"
May 2, 2013
admin

Kuliner Malang : Nasi Buk Matirah


Oleh : Philardi Ogi

Indonesia yang sebagian besar daerahnya memilih nasi sebagai makanan pokok, memiliki banyak makanan khas daerah yang terkadang lahir dari makanan rumahan yang dasarnya nasi dengan lauk tradisional. Contohnya nasi timbel Sunda, nasi Gudeg Jogja, nasi Pecel Jawa Timur, nasi campur Bali. Sedangkan di Madura, ada Nasek Jejen dan juga Nasi Buk.

Nasi Buk, yang sebenarnya diucapkan Nasi Bug, adalah masakan yang lahir di Madura. Namun warung yang terkenal ada di kota Malang, yaitu Nasi Buk Matirah. Nama lengkapnya adalah Warung Nasi Bik Matirah, yang sebenarnya adalah rumah makan yang menjajakan makanan khas Madura.

Nasi Buk standarnya adalah Nasi yang ditemani sayur lodeh nangka, sambal terasi dan seperti kebanyakan masakan madura lainnya, Ditaburi Serundeng. Namun untuk lauknya kita bisa memilih antara potongan daging ayam goreng, empal, babat,sate daging, tahu tempe bacem, dan banyak lainnya. Namun favorit saya adalah Mendol, Paru kering dan Dendeng Ragi.

Mendol merupakan perkedel dari tempe, dengan tekstur kesat mendol sangat cocok untuk menemani basahnya sayur lodeh yang sangat gurih.

Dendeng ragi di Buk Matirah disajikan dengan balutan serundeng dari kelapa parut yang sudah di bumbui. Rasanya sangat gurih. Walaupun dendengnya tebal, namun sangat empuk karena konon dimasak dengan kayu bakar. Sehingga ketika di masak, panasnya merata.

Paru kering atau sering disebut Keripik Paru, bentuknya mirip seperti yang saya temukan di Salatiga. Teksturnya Kering renyah dan memiliki citarasa gurih manis. Sepertinya sebelum di goreng parunya dibumbui terlebih dahulu. Paru kering ini bisa dimakan ala kerupuk, digigit setelah menyuapkan nasi dan lauknya. Atau cara saya, dipotong dan dicampur dengan sayur lodeh dan nasi. Hal ini agar tercampur dengan kuah sayur dan tidak terasa terlalu kering.

Akhirnya saya pun pulang membawa sekantung paru kering yang dijual terpisah seharga Rp 90.000. Dan seminggu kedepannya saya selalu makan malam ditemani si Paru kering dari Buk Matirah.

Warung makan Bik Matirah
Jl. Trunojoyo 10 EF Malang
0341-7703377

Mar 27, 2013
admin

Kuliner Makassar : Coto Gagak


Oleh Philardi Ogi

“Bukaaan,saya bukan mau ngajakin makan daging burung gagak! Ini namanya aja gagak karena alamatnya ada di jalan gagak.”

Fiuhh…saya sempat mengira teman saya ini ternyata seorang gothic yang memakan soto berisikan daging gagak hitam dengan darahnya sebagai kuah sebagai penyembahan pada jin. Untungnya bukan.

Nama sebenarnya adalah Coto Makassar ”Aroma”, namun lebih terkenal dengan Coto Makassar Gagak, karena terletak di jalan gagak, sama nasibnya seperti pallu basa serigala dan pallu basa onta. Kebayang deh kalo ada restoran enak di jalan Babi, pasti sudah di grebeg oleh ormas.

Pilihan kami ke warung coto gagak ini dikarenakan lidah teman saya yang paling cocok dengan coto gagak. Namun sebenarnya banyak sekali warung coto di kota Makassar yang memiliki ciri khas tersendiri. Coto Nusantara, Coto Ranggong dan Coto Paraikatte adalah warung yang juga terkenal di kota ini, namun sebenarnya citarasanya tidak jauh berbeda, biasanya bisa dilihat dari kuahnya yang lebih encer atau lebih tebal. Enak yang mana?kembali ke selera kita masing-masing.

Coto Makassar atau Coto Mangakasara, seperti kebanyakan makanan Makassar lainnya, bukanlah sahabat untuk ”kaum yang kurang beruntung”, sebutan saya bagi orang yang menderita jantung, darah tinggi dan penyakit yang dapat meningkatkan kadar kolesterol. Coba saja gali kuah coklat pekat yang disajikan, isinya adalah otak, babat, usus dan daging sapi. Sadis!.

Disajikan dalam mangkuk kecil, Coto ini memiliki daging yang empuk, tak heran memang daging dan jeroannya direbus beberapa lama agar lebih lunak, lalu di potong-potong kecil dan dicampur bersama kuahnya yang sudah dimasak terpisah. Yang unik adalah citarasa kuahnya, rempah seperti bawang, ketumbar, daun sereh dicampur dengan kacang tanah yang direbus hingga hancur, membuat daging dan jeroan yang lembut tadi bercampur dengan rasa gurih dari kuahnya.

Sebagai pelengkap tersedia kupat yang sudah dipotong – potong, bisa dimakan dengan dicemplungkan kedalam kuahnya, atau cara saya, dimakan terpisah diselangi kuahnya yang sudah saya kucuri jeruk nipis dan tambahan sedikit kecap manis. Segar!

Jan 23, 2013
admin

Kuliner Solo : Selat RM Kusuma Sari Vs Selat Viens


Oleh: Philardi Ogi

“Lautan apa yang paling enaak?”

“Jawabnya : Selat Solo!….”

Teka teki lawas ini dilontarkan nyaris 15 tahun lalu oleh kawan saya asli Temanggung dengan logat medoknya. Saya, yang kala itu anak SMP asli sunda yang sedang mencari jati diri (dan pacar tentunya), bengong melihat kawan saya terkekeh-kekeh sendirian.

“Emangnya di Solo ada laut? Selatnya memisahkan antara pulau apa? apa enaknya?” tanya saya dengan lugu dan imut.

Teman saya mendadak terdiam, lalu tawanya semakin mambahana di ruang kelas. Skak mat!.

Dan saya yang kala itu jelmaan Nicholas Saputra, semakin bingung.

Itu pertama kali saya mendengar nama makanan Selat Solo, dari kelakar teman saya yang akhirnya menceritakan dengan menggebu-gebu enaknya makanan yang di adaptasi dari bistik sapi dan salad yang dikawinkan dengan bumbu dan rempah Jawa. Dan sejak saat itu, saya sangat penasaran dengan yang namanya Selat Solo.

Kini setiap saya menyambangi kota Solo, saya selalu tersenyum sendiri karena terlintas bayangan teman saya itu. Ternyata ia benar, selat Solo adalah merupakan makanan yang enak dan berbeda. Pilihan selat di kota Solo sangat banyak dan beragam, tentunya masing-masing citarasa yang tersendiri yang unik. Namun ada dua tempat yang menyajikan selat Solo yang menjadi favorit saya, resto Viens dan Rumah Makan Kusuma Sari.

Resto Vien’s memiliki Selat Solo fushion yang sudah modern dengan citarasa peranakan. Sedangkan RM Kusuma Sari menawarkan Selat Solo yang lebih otentik dan orisinil.

Resto Viens merupakan sebuah warung kuliner bertempat di jalan Hasanuddin dengan hidangan ”selat segar” sebagai jagoannya. Selat segar memiliki dua pilihan yaitu selat daging cacah dan selat Iga. Yang disebut Selat solo lebih cocok dengan Selat daging cacah, Dibandrol harga Rp 7,500 saja.

Viens memang sedikit berbeda dimana dagingnya dihancurkan dan dibuat bulat seperti bakso seukuran jempol. Hidangan Selat ini dilengkapi oleh telur pindang, kentang rebus, daun kol, acar, wortel dan buncis. Ada juga potongan kentang kering yang tenggelam dalam kuahnya.

Karena dagingnya dicacah maka memiliki tekstur yang lembut namun garing di permukaan luar. Dengan kuah berwarna kuning dengan citarasa rempah dan berminyak, menyerupai kuah lontong sayur. Kuahnya sangat gurih dan sangat cocok dengan daging cacahnya.

Selat Solo RM Kusuma Sari Didirikan pada tahun 1990 oleh Ibu Menggung yang legendaris. Sajian Selat Solo di Kusuma Sari memiliki penampilan lebih ber-estetika. Disajikan dengan potongan daging paha sapi ditengahnya dan dikeliilngi oleh kentang rebus, daun selada, wortel, tauge, buncis, potongan tomat dan irisan telor rebus yang melingkar cantik. Ditengahnya tak lupa ditutupi irisan kentang yang digoreng kering. Salah satu yang unik adalah tambahan mayonnaise yang di taruh diatas daun selada. Mayonnaise ini sebenarnya adalah signature dari hidangan Selat Solo, menjadi kan hidangan ini lebih otentik.

Sama dengan Viens, Selat Solo ditulis di menu didengan nama “Salad Segar” dan dibanderol Rp 9.500. Selat RM Kusuma Sari menyajikan Potongan daging sapi yang sangat empuk dengan berserat tanpa lemak. Diguyur kuah gurih ringan dengan citarasa manis segar dengan terkstur encer berwarna coklat keemasan. Nilai plus dari Selat RM Kusuma Sari adalah disediakannya Mayonaise homade yang ditaruh diatas daun selada. Saya suka sekali megoleskan mayonnaise ke serat dagingnya dan mencelupkan daging ke kuahnya. Dimana kuah akan meresap melalui pori-pori serat, jadi ketika digigit, Nyuss! campuran mayonnaise dan kuah yang gurihnya keluar menyatu dari dagingnya. Membuat dagingnya yang juicy bercampur dengan citarasa asam manis mayonaise dan kuahnya yang gurih.

Entah dimana sekarang teman SMP itu sekarang, semoga tercapai cita-citanya menjadi seorang secret agent seperti James Bond, walau wajahnya kala itu lebih cocok jadi pemain Srimulat. Dimanapun kau berada, terima kasih kawan, kau telah berjasa memperkenalkan salah satu kuliner Indonesia yang patut dibanggakan.

Viens
Jl. Hassanudin 115
Telp : 0271 3060020

RM Kusuma Sari
Jl Yos Sudarso 81/ 75
Telp : 0271 656955

Jan 7, 2013
admin

Kuliner Jakarta : Soto Betawi H. Husen


Oleh : Philardi Ogi

“Isinya mau apa aja bang? Ada daging, usus, paru, babat, tulang muda. Kalo Lidah sudah habis nih”

Tanya pak Husen ketika saya memesan satu porsi soto betawi campur.

Angan saya melayang ketika disebutkan makanan idola saya, jeroan. Satu persatu…

Bagi saya menawarkan jeroan seperti itu sama halnya saja melihat barisan model Victoria secret keluar satu per satu keluar dari panggung catwalk. Lebay memang, tapi bagi pecinta jeroan akut seperti saya, ini adalah surga.

“Daging, paru ama babat aja deh”. Seakan memilih Miranda kerr, Alessandra Ambrosio dan Gisele Bündchen dari atas panggung catwalk.

Bukannya saya tidak suka dengan jeroan yang lain, namun saya kurang doyan bila citarasa sotonya terlalu bercampur, jadi saya hanya memilih jagoan favorit saya dan citarasa yang mewakili tekstur. Daging yang berserat, babat yang empuk kenyal dan paru yang sedikit lebih renyah. Bersatu mereka menjadi Power Ranger membasmi rasa lapar!

Bayangan model Victoria Secret berseragam Power Ranger luntur setelah satu mangkuk soto betawi dan sepiring nasi disuguhkan. “Beruntung nih si abang, ini porsi terakhir, jadi babatnya aga dibanyakin“. ujar pelayan diiringi senyum walau mata saya masih terpaku melihat beberapa potong babat yang bergelinang di mangkuk.

“HA?ini masih jam dua belas seperempat,sotonya udah abis bang?” saya sedikit teriak kepada pak Husen yang berdiri kebetulan tidak jauh dari empat saya makan.

“Alhamdulillah, kalo Sabtu sih yang beli udah pada nungguin dari jam 7, jam segini udah abis”.

Saya memang jodoh dengan semangkuk soto betawi terakhir didepan mata. Sembari bersyukur saya melirik ke arah deretan manusia dengan raut muka kecewa setelah pak Husen memberi tahu bahwa Miranda Kerr dan semua temannya sudah turun dari panggung.

Ritual dimulai, saya icip dulu kuahnya sebelum mencampur kecap atau jeruk nipis. Uedan! Gurihnya pas, walaupun santannya tidak terlalu pekat. Ini dikarenakan campuran santan dengan susu bubuk pada kuahnya, yang membuat rasa gurih tidak terlalu berat dengan kekeantalan yang pas. Hanya menambahkan sedikit jeruk nipis setengah butir, sempurna sudah kuahnya. Kecap manis saya tuangkan sedikit keatas nasi putihnya saja yang sudah ditaburi bawang goreng.

Pelayan tadi benar, Soto yang saya dapat babatnya melimpah. Babatnya sangat empuk dan kenyal, potongan daging sapinya juga empuk berserat dan potongan parunya garing namun tidak alot. Sepertinya sebelum digoreng hampir semua bahan direbus dahulu agar lebih empuk. Di dalam kuahnya juga terdapat potongan emping dan tomat untuk menambah segar citarasa kuahnya.

Tidak lama bagi saya untuk mengabiskan semangkuk soto campur tersebut. Ah, seharusnya saya pesan posrsi istimewa yang 1,5 kali lebih banyak. Tapi mengingat saya mendapat porsi terakhir hari itu, saya sudah sangat bersyukur. Saya mengakhiri hidangan dengan memesan potongan mangga dari tukang rujak di seberang warung Soto, sebagai pencuci mulut untuk penetralisir rasa santan yang menempel di mulut ini sembari mengobrol ringan dengan pak Husen. Saya kebetulan orang terakhir yang tersisa di warungnya.

Menurut pas Husen, dalam weekend seperti hari itu, bisa menghabiskan 1 kuital daging yang habis sebelum jam satu siang. Dan rata-rata sehari bisa mengabiskan 60 butir kelapa untuk diambil santannya yang dicampur dengan 2 kg susu bubuk. Itupun masih menyisakan beberapa orang yang kecewa karena kehabisan, dahsyat!.

Hebatnya lagi, dari mulai pindah dari sebelumnya di jalan Sultan agung pada tahun 1989, warungnya selalu ramai dan selalu sold out. “Apalagi Sabtu-Minggu begini, sebelum jam 12 sudah ga lengkap, biasanya lidah sama paru sudah habis duluan” ujarnya sambil tersenyum.

Tidak apa, sepertinya ini bukan kunjungan terakhir saya ke warung pak Husen. Mungkin lain kali agak lebih pagi untuk merasakan jeroan yang belum saya coba yaitu campuran lidah, tulang muda dan ususnya.

Ahh bayangan model Victoria Secret itupun kembali muncul…

Soto Betawi H. Husen
Jl Padang Panjang 6 C Manggarai, Jakarta Selatan
Telp 83706476

Dec 10, 2012
admin

Kuliner Bandung : Lontong Kari Kebon Karet


Oleh Philardi Ogi

Tempat yang pertama dijawab Pak Bondan Winarno, ketika salah satu followersnya meminta rekomendasi tempat kuliner di kota Bandung melalui twitter adalah “Lontong Kari kebon karet”. Setelah membaca twit tersebut saya jadi sadar, saya juga otomatis menyebut Lontong Kari Kebon Karet sebagai rekomendasi kuliner di tempat saya dibesarkan itu.

Lontong kari Kebon karet memang menjadi tempat kuliner yang melegenda di kota Bandung, jauh sebelum di twit Pak Bondan. Dirintis pada tahun 1965 oleh H. Engkos Kosasih ayahanda dari pengurus sekarang yaitu Bpk Aldi Junaedi. Tempat yang asalnya gerobak di pinggir jalan Otto Iskandardinata namun kini sudah berbentuk bangunan sederhana di gang kecil di jalan kebon karet.

Yang membuat lontong kari ini berbeda dan digandrungi adalah Kuah Karinya, kalo saya me-rating dari 1 sampai 10, nilainya adalah 9,5. Nilai 10 hanya saya simpan apabila ada kuah kari yang didalamnya ada doorprize iphone 5. Secara tekstur, kuahnya kental dengan warna lebih pekat dan sedikit berminyak. Namun secara rasa, kari ini memang berbeda. Gurihnya pas dengan citarasa manis. Saya bisa menguras kuah karinya tanpa merasa eneg. Kekentalan kuahnya karena ada bulir serat rempah yang membuatnya jadi kaya rasa. Disebut ada 14 macam rempah yang dicampur dalam kuah tersebut, tidak heran kuahnya bisa begitu kental.

Seporsi lontong kari spesial berisi potongan lontong, potongan daging sapi empuk dengan tambahan telur rebus dan telur puyuh. Tak lupa dilengkapi emping dan taburan bawang goreng sebagai pelengkap yang crunchy. Lontongnya padat namun empuk, daging sapinya yang dipotong kecil penuh serat dan kenyal. Saya lebih suka mengaduk merah telur rebusnya agar menyatu dengan kuahnya dan menambahkan citarasa kesat. Jeruk nipis disediakan untuk diperas dan menambah rasa segar, saran saya jangan lebih dari satu sendok saja agar tidak melunturkan gurih kuahnya.

Entah apa yang membuat pak Bondan terkesan dengan Lontong kari ini, namun saya selalu memberikan rekomendasi karena kuah lontong kari ini tidak pernah membuat saya bosan, saya selalu terpukau seperti pertama kali mencoba kauhnya. Dan setiap rekan saya yang mencobanya, mereka selalu merasa ini adalah saran kuliner paling baik yang mereka dapat.

Lontong Kari Kebon Karet
Gang Kebon Karet, Jl. Otto Iskandardinata Bandung
Buka cabang di beberapa resto The Kiosk (Dago, braga dll) dan Foodcourt transtudio Mall.

Nov 7, 2012
admin

Kuliner Bangkok : Pad Thai Sukhumvit Soi 38


Oleh : Philardi Ogi

Saya suka dengan namanya, “Pad Thai”. Kenapa? karena dengan mendengar namanya saja kita sudah tahu makanan ini asalnya dari negeri Thai. Seakan Pad Thai adalah identitas negara Thailand melalui dunia kuliner.

Pad Thai memang lahir sebagai bagian sejarah negara Siam ini, adalah kebijakan pemerintah dibawah pemerintahan perdana menteri Luang Phibunsongkhram yang memasyarakatkan Pad thai untuk makanan kaum menengah kebawah. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan ekspor beras di Thailand saat itu. Ternyata kebijakan itu membuat Pad Thai berkembang di seluruh pelosok negeri Thailand dan menjamur makanan masyarakat.

Sebagai makanan masyarakat, sangatlah mudah mencari warung Pad Thai di Bangkok, namun saya direkomendasikan salah satu warung Pad Thai terbaik di Bangkok yang ada di daerah Sukhumvit, yaitu di Soi 38. Warung yang terletak di muka jalan Soi 38 ini pernah memenangkan kejuaraan Pad Thai di Thailand. Sebenarnya ada satu lagi tempat yang direkomendasikan,yaitu Thipsamai di daerah Banglaphu. Namun di Sukhumvit, this one is the best. Terletak depan stasiun MRT Thong Lo, jalan Soi 38 memiliki banyak penjual pinggir jalan. Ada beberapa penjual Pad Thai di jalan ini, namun warung yang paling terkenal ini letaknya tidak jauh dari muka jalan Sukhumvit, disebelah kanan jalan.

Pad Thai bisa dibilang kuetiaw versi Thailand. Namun sesuai karakter masakan Thailand, Pad Thai terasa lebih spicy dan lebih kaya rasa. Ada sedikit rasa asam dari tamarind, namun di kombinasikan dengan rasa manis dari saus thai-nya. Yang special dari Pad Thai di Soi 38 adalah mienya yang lembut dan rasa bumbunya yang lebih segar. Karena tamarind yang pas tercampur dengan cuka, bersatu dengan rasa gurihnya. Must try disini adalah Pad Thai seafoodnya, karena ras asam manis bumbu Pad Thainya cocok dengan segarnya cumi dan udang yang disajikan.

Yang menyenangkan dari warung adalah tersedianya mango sticky rice sebagai pencuci mulut. Manggo sticky rice adalah mbuah mangga yang sedikit muda, dengan citarasa asam manis segar yang disajikan dengan nasi ketan yang manis. Setelah diguyur citarasa Pad Thai yang berempah, rasa lembut segar buah mangga Thailand di lidah menjadi penutup yang sempurna.

Aug 6, 2012
admin

Kuliner Surabaya : Lontong Balap Pak Gendut


Oleh : Philardi Ogi

Ragam bumbu rempah di nusantara selalu saja memberikan suguhan kuliner yang berbeda di setiap daerah. Walaupun dengan jenis bumbu yang sama, bisa disuguhkan untuk jenis makanan yang berbeda. Kuah petis adalah salah satunya, kalo di Solo disajikan dalam bersama tahu dan ketupat menjadi kupat tahu, sedangkan di Bangka ditambahkan bumbu udang dan menjadi bumbu mie Koba. Nah di Surabaya disuguhkan dalam bentuk Lontong Balap.

Salah satu penjual Lontong Balap yang terkenal adalah pak Gendut. Nama lengkapnya Lontong Balap Garuda Pak Gendut. Nama “Garuda” karena tempat mangkalnya dahulunya adalah bioskop Garuda. Sebenarnya rasa lontong balapnya tidak beda jauh dengan warung-warung disebelahnya, namun setiap warung punya pelanggan sendiri. Kebetulan saja salah satu pelanggan pak Gendut adalah pentolan band Dewa yang membuat warungnya lebih dikenal.

Lontong Balap itu sendiri berisi potongan lontong, tahu, lentho, tauge dan ditaburi bawang goreng. Lentho? Lentho adalah campuran kacang, kunyit, daun bawang, potongan singkong yang disatukan oleh tepung. Bahan tadi digumpal sehingga bentuknya menjadi butiran sebesar jempol yang berwarna coklat. Biasanya beberapa butir hancurkan dan diaduk agar tercampur dengan kuah petisnya untuk menambah citarasa asem manisnya.

Kuahnya sendiri terasa sangat gurih dengan aroma bawang putih yang membuat kuahnya lebih segar. Satu suapan sendok dengan isi lontong, tauge dan kuah petisnya akan meleleh bersatu dalam mulut, lontongnya yang lembut, serasi dengan renyahnya tauge dan siraman kuah petis yang gurih. Aah sedaaap!.

Lontong Balap Garuda Pak Gendut
Jl. Kranggan (eks bioskop Garuda)
Surabaya

Jun 27, 2012
admin

Kuliner Bukittinggi : Sate Danguang-danguang


Oleh : Philardi Ogi

Uniknya dengan masakan Sumatra Barat adalah, walaupun jenisnya sama, namun setiap daerah seakan berlomba membuat kekhasannya sendiri-sendiri. Selalu saja ada yang berbeda dari belahan daerahnya, walaupun modifikasi atau hanya menambah bumbu, namun kreasi selera yang beragam seakan memperkaya keragaman koleksi kuliner nusantara. Salah satunya adalah Sate Padang.

Menurut Pak Bondan Winarno, ada tiga macam sate Padang yang utama.. Yang pertama adalah sate Padang Panjang, yang kedua adalah sate Padang Pariaman dan yang terakhir dan yang kurang dikenal adalah sate Padang Danguang danguang. Sate Padang Pariaman tersohor dengan sate Padang Mak Syukur, sate ini memiliki kuah kuning karena warna campuran kunyit sedangkan sate Padang Pariaman warna kuahnya jingga karena bercampur cabai dan tentunya rasanya lebih pedas.

Sebagai pencinta jeroan kelas akut, tentu saja kedua jenis sate ini sudah akrab dengan lambung saya,namun nama “Danguang danguang” terdengar sangat asing. Sate ini berasal dari desa Danguang danguang di Payakumbuh, namun salah satu penjual sate ini yang tersohor di Bukittinggi terletak di jalan Ahmad Karim, tidak jauh dari jam Gadang.

Seakan jodoh, saya datang pukul 22.00, sesaat sebelum warung kecil ini tutup. Tidak seperti sate Padang Pariaman dan sate Padang Panjang, sate Danguang Danguang tidak tersedia jeroan usus ataupun jantung, sebagian besar adalah potongan daging sapi. Uniknya potongan daging sapi ini sudah rata dibumbui dengan parutan kelapa. Parutan kelapa itu tidak berwarna putih, namun kekuningan dan menggumpal, artinya sudah dibumbui terlebih dahulu sebelum dicampur dengan dagingnya. Ekspektasi lidah saya pun meningkat tajam akan citarasa sate ini.

Ternyata bumbu sate Danguang Danguang berwarna warna kuning sepeti milik sate Padang Panjang, namun lebih kental sedikit. Secara rasa, bumbunya ternyata lebih ringan dan tidak segurih bumbunya sate Mak Syukur, walaupun memiliki tekstur dan warna yang mirip. Bumbunya sangat cocok dicocol dengan kerupuk kulit yang disediakan di meja makan. hidangan ini disajikan dengan ketupat dan ditaburi bawang goreng diatasnya agar lebih memberi aroma segar. Perbedaan menonjol sate ini terletak terasa di dagingnya, karena dibumbui dahulu oleh parutan kelapa tentunya terasa lebih gurih dan teksturnya sedikit lebih renyah karena parutan kelapanya. Namun dagingnya tetap lembut dan kenyal, khas sate Padang pada umumnya.

Pages:1234»
Mainmakan travelblog adalah kumpulan cerita perjalanan traveling dan kuliner, merupakan sarana berbagi pengalaman bagi kita semua, ayo ceritakan pengalaman anda. Klik disini untuk lebih lengkapnya

MainMakan Flickr Gallery

We Are Part Of :