Jul 14, 2011
admin

Kuliner Yogyakarta : House of Raminten


By Philardi Ogi

Kunjungan pertama saya ke House of Raminten berakhir dengan tangan hampa, waiting list yang sudah berbaris tidak mampu berkompromi dengan suara di perut ini. Ternyata datang pas malam minggu memang bukan waktu yang tepat, ini waktunya dimana muda mudi kota Yogya memadu kasih bung!. Setelah petugas waiting list berkata “Kami Buka 24 jam Mas..” akhirnya saya memutuskan untuk datang keesokan harinya untuk sarapan.

Teman saya yang asli Sleman merekomendasikan tempat ini sebagai “must visit” bila ke Yogya dan antrian panjang malam minggu itu manambah rasa penasaran. Namun jujur saja, mendengar nama “House of Raminten” pertama kalinya membuat hati ini gelisah memikirkan isi dompet, maklum dalam benak kampungan saya terpatri apabila nama keren yang berbau english itu biasanya harganya kurang terjangkau oleh dompet saya.

Terlebih setelah melihat interior dari rumah makan ini membuat hati semakin berdebar memikirkan harga makanannya. Bertempat di sebuah rumah yang disulap menjadi bernuansa Yogya dengan ambence Jawa yang kuat, pintu masuk berukir ulir-ulir khas Jawa Tengahan, bale bale kayu dan gazebo yang ditata apik di landskap halaman yang rindang seakan menyambut hangat.

Restoran ini memiliki konsep angkringan yang dinaikan derajatnya di suatu kafe. Sebagai nyawa angkringan, disini juga tersedia tempat makan lesehan yang disediakan kursi lipat untuk menyender. Sangat cocok untuk berlama-lama ngalor ngidul sambil menyeruput kopi bersama kerabat.

Namun senyum saya timbul ketika melihat menu makanan yang disodorkan. Ternyata yang namanya sego kucing atau nasi kucing memang tidak akan terpisahkan dengan yang namanya murah. Nasi yang saya pesan harganya Rp 4000, soalnya nasinya dobel. Kalo mau, kita bisa pesen yang porsi satu nasi paling kecil, harganya Rp 1000. Ya, seribu! Sama dengan ongkos parkir motor pinggir jalan di Jakarta.

Nasi Kucingnya disajikan sederhana, tidak berbeda dengan nasi kucing yang ada di angkringan. Hanya saja disajikan diatas piring dan ditata rapi. Sedikit meningkatkan derajat nasi kucing. Sedikit, karena tidak ada rasa istimewa dari nasi kucingnya, sama saja dengan nasi kucing yang biasa saya makan di Stasiun Tugu. Tapi toh memang orisinalistas dari nasi kucing ini yang saya cari, kalo ditambahi elemen dan bumbu lain namaunya bukan nasi kucing, jadi nasi rames nantinya.

Namun di restoran ini memiliki banyak pilihan minuman dan pencuci mulut yang menarik. Sebut saja Es Dawet Gladri, Ponconiti, Es Purworukmi dan Gajah Ndekem yang semua terdengar asing di telinga saya. Dengan harga yang tidak lebih dari 10 ribuan, rasa penasaran ini sepertinya sulit dibendung, membuat saya lebih ingin memesan semuanya.

Uniknya lagi, House of Raminten menyediakan koleksi minuman jamu, lengkap dengan keterangan khasatnya. Beras kencur, kunir asem tersedia disini. Daftar menunya pun dilengkapi dengan khasiatnya, seakan ada mbok jamu gendong di belakang dapur (atau memang ada?) Sayang tidak ada jamu dengan khasiat penambah rejeki hehehe…

Berbicara soal mbok jamu, di era 80-90an awal yang kala itu sedang marak dengan film nyerempet porno, tergambar mbok jamu dengan kemben batik yang sensual. Nah, nilai plus bagi kaum adam yang mengunjungi House of Raminten adalah pemandangan pelayan wanitanya dengan kemben batik yang ketat, baik malam hari atau siang hari. Seolah mereka kecebur panci berisikan jamu beras kencur saat masih balita dan kebal masuk angin seumur hidup.

Oke, dengan segala keunikannya, menurut saya House of Raminten memang tempat yang patut dikunjungi ketika di Yogya. Namun tetap ada satu yang saya sayangkan, kenapa sih namanya harus berbau bahasa Inggris? padahal dari makanan, suasana, dan pelayannya sudah Yogya banget. Menurut saya akan lebih bermakna apabila namanya juga sejalan dengan konsep awalnya, sekalian juga melestarikan Budaya dan bahasa Indonesia kan?.

2 Comments

  • es kelapa muda disini porsinya gede banget, biasa buat diminum rame2 sampai 3 orang hehehe :D

  • 6 tahun tinggal di jogja, blom pernah maen ke house of raminten :(

Leave a comment