Oct 19, 2011
admin

Tanjung Bira, Sulawesi Selatan


Oleh Philardi Ogi

Tidak sulit untuk mengagumi pantai ini, hamparan pasir putih dan hijau toska laut memanjakan pandangan sejauh mata memandang. Panorama itu membayar 5 Jam perjalanan berkendara dengan mobil dari Makassar. Memang tidak berapa lama, namun kondisi jalanan yang rusak dan perbaikan jembatan disana-sini cukup membuat pegal badan.

Saat itu pukul 06.30 pagi di Pantai Bira Barat, Pantai ini disibukan oleh nelayan yang baru saja pulang melaut. Tidak banyak memang, namun melihat para nelayan menurunkan hasil tangkapan mereka membuat saya sadar betapa kaya laut negeri kita ini. Bagaimana tidak, sangat beragam hasil tangkapan mereka, kakap merah, ikan pari dan banyak lagi tangkapan yang bahkan saya tidak tahu namanya. Namun nampaknya ada saja yang berbeda dari setiap tangkapan nelayan pagi itu.

Tanjung bira terbagi kedalam dua pantai, Tanjung Bira Barat yang merupakan tempat wisata yang terkenal dan sudah di komersialisasi dan tanjung Bira Timur yang tenang dan tersebunyi. Asiknya, kita bisa melihat sunrise di pantai Bira Timur dan sunset di pantai Bira barat, yang hanya berjarak 5 menit berkendara.

Ketika menyentuh pasir putihnya saya termenung untuk beberapa saat, pasirnya belum pernah saya temukan sebelumnya, begitu halus seperti tepung, bukan butiran seperti biasanya. Bahkan ketika angin berhembus kencang terkadang pasirnya berterbangan terbawa angin.

Saya memiliki kebiasaan aneh menumpulkan pasir pantai yang saya kunjungi, lalu saya simpan dalam toples dan melabelinya sebagai kenangan, terkadang di waktu senggang saya melihat kembali koleksi saya, seperti time capsule untuk memicu lamunan saya akan pengalaman yang saya simpan di dalam otak. Namun untuk pantai Tanjuang Bira, saya urungkan niat saya untuk mengambil pasirnya, jujur saja saya takut di bandara nanti pasir itu dikira sebagai heroin, saking bersih putih dan lembutnya.

Ayo berenang,tunggu apa lagi! Ince, seorang teman saya yang asli pulau Selayar menepuk bahu saya, membangunkan lamunan tentang pasir tepung pantai ini. Tidak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk merasakan segarnya air laut di pagi itu, air laut yang terbentang berwarna hijau bersih dan pantai yang sepi memang bukan untuk disia-siakan.

Diujung horizon, terlihat sebuah pulau yang menggelitik rasa penasaran, adakah yang tinggal disana?indahkah panorama pulau tersebut?budaya unik apakah yang dimiliki oleh pulau tersebut?. Nama pulau itu adalah Liukang Liu, sulit bagi saya untuk memendam rasa penasaran saya setelah disodori pantai seindah Tanjung Bira, pasti di “pulau itu ada yang lebih menarik lagi” otomatis angan saya berandai.

Saat makan siang nasi bungkus di warung, Ince menceritakan akan indahnya koral dan kehidupan bawah laut di dekat pulau Liukang Liu, pulau yang terlihat dari pantai tadi. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa kapal untuk mengunjungi pulau tersebut sekalian snorkeling. “250 ribu” seorang bapak menawarkan jasa kapal kecil untuk snorkeling, ke pulau liukang dan mengunjungi penangkaran penyu dimana kita bisa berenang bersama beberapa ekor penyu besar. “tidak bisa ditawar, harga pas…bonusnya saya pinjamkan lagi snorkeling 2 buah” tegasnya lagi setelah kami mencoba menawar. Kami bukan negotiator handal, terlebih ketika bayangan snorkeling bersama penyu sudah tertanam di benak kami.

Arus lumayan kuat saat itu, jadi pemandangan sedikit keruh dan sulit untuk berenang snorkeling, namun tidak mengurangi keindahan koral yang ada di tepian pulau Liukang Liu. Setelah 20 menit bersenorkel ria, kami pun tiba di penangkaran penyu yang sebenarnya lebih cocok dibilang kolam penyu, karena tidak ada fasilitas penamngkaran dan pengelolaan penyu. Hanya kolam sebesar kira-kira 30 meter persegi diisi oleh beberapa ikan penyu yang berenang lemas kebingungan. Dibuat sebagai daya tarik wisata agar pelancong bisa berenang dan berfoto bareng penyu. Sedih.

Selain wisata bahari, saya juga mengunjungi salah satu daya tarik Tanjung Bira lainnya yang unik, yaitu pembuatan kapal phinisi tradisional. Yang terkenal memang di desa Tana Beru, sekitar 20 menit dari Tanjung Bira, namun di Dusun Tanetang yang terletak di Pantai Bira Timur, juga terdapat pembutan kapal phinisi. Dan asyiknya lagi, kapal dibuat di bibir pantai yang menawan. Kesempatan untuk menikmati indahnya pantai sekaligus belajar dari budaya pembuatan phinisi tradisional.

Ketika itu ada 2 kapal phinisi yang sedang dibuat, beruntungnya kapal yang sedang dibuat adalah kapal paling besar, yaitu sepanjang 50m pesanan orang Portugal yang dipesan dari Bali. Kala itu pengerjaan baru 7 bulan dari target 10 bulan, jadi bentuk kapal sudah terlihat dan bisa dinaiki. Pembuatan kapal phinisi dilakukan dengan cara tradisional, dengan mengadopsi teknologi dan bahan yang modern sesuai pesanan.

Sore hari, kembali saya menunggu sunset di pantai Bira Barat, tentunya dengan kembali berenang di laut yang sudah mulai sepi. Lamunan saya membawa jauh menerawang ketika saya berendam di pantai ini. Pasir pantai ini memang Heroin, ketenangan pantai yang selaras dengan keindahan panoramanya dapat membius pikiran saya untuk membawa angan ini melayang mengenang apa saja yang membuat saya tersenyum.

3 Comments

  • wah..jadi penasaran ingin ke Tanjung Bira timur. :)

    Semoga perjalanan berikutnya saya bisa ke sana.

    Kira-kira dari airport makasar ke Tanjung Bira ada pilihan transportasi apa aja ya?

    makasih.

    btw, twitternya mainmakan ga update ya?

  • Pengen ke Tj. Bira tapi nggak mau ke kolam penyu :’(
    Btw, punya hobi yang sama… ngumpulin pasir! *toss*

    • masa ibu penyu ke kolam penyu, nanti ga bisa keluar hihi…
      itin travel ke sulawesi kan ada vin,gw gamau pulang pas disini..apalagi pas ke Tana Beru

Leave a comment

Mainmakan travelblog adalah kumpulan cerita perjalanan traveling dan kuliner, merupakan sarana berbagi pengalaman bagi kita semua, ayo ceritakan pengalaman anda. Klik disini untuk lebih lengkapnya

WE ARE PART OF :