Jan 3, 2012
admin

Kuliner Bukittinggi, pasar Los Lambuang : Ketupek Pical dan Nasi Kapau Uni Lis


Oleh Philardi Ogi

Bukittinggi, the paradise of Culinary! Begitu teman saya menggambarkan kota kecil di perbukitan di Sumatera Barat itu. Maklum, kami berdua adalah penggila jeroan akut stadium final. Dari pesawat ke Padang yang kami bicarakan hanya nasi kapau, nasi kapau dan nasi kapau. Yah mungkin sesekali diselingi gosip tentang Yuni Shara yang baru putus dengan Raffi Ahmad.

Jam 7 pagi kami sudah berdiri di jam gadang di tengah Kota Bukittinggi. Tujuan kami sudah pasti, Los Lambuang, sebuah foodcourt tradisional di tengah pasar Ateh Bukittinggi. Pasar Ateh yang artinya adalah pasar atas, dimana pasar dibagi dua menjadi pasar atas dan pasar bawah, pasar atas menjual pakaian, sandal, perabotan sedangkan pasar bawah adalah pasar becek yang menjual bahan-bahan dapur.

Sebenarnya nasi Kapau Uni Lis yang asli terletak di Pasar Ateh, namun kami ingin mencoba pilihan makanan di Los lambuang selain nasi kapau untuk menambah pengalaman citarasa kami (baca: rakus). Letaknya yang tidak jauh dari Jam Gadang, dalam 10 menit kami sudah disapa ramah oleh penjaja makanan Los Lambuang. Penjual di Los Lambuang ternyata tidak banyak macamnya, didominasi oleh penjual Ketupek Pical dan Nasi Kapau.

Karena belum pernah coba akhirnya kita mencoba Ketupek Pical sebagai makanan pembuka kami, sepiring berdua seperti lagu dangdut, tujuannya agar perut tidak kekenyangan buat makan nasi Kapau nanti. (baca:Rakus dengan strategi)

Ketupek Pical mungkin dalam bahasa Indonesia adalah ketupat pecel, atau bisa dibilang ketupat sayur dengan bumbu pecel. Tapi jangan salah, bumbu dan bahannya sangatlah berbeda. Ketupat yang dipotong-potong, lalu diberi irisan halus kol, pakis, daun singkong dan mie kuning. Lalu disiram sedikit kuah gulai dengan campuran isi nangka muda, rebung dan daun kol, dan ditutup dengan saus kacang yang langsung menyatu dengan kuah gulai.

Berbeda dengan ketupat sayur biasa bukan? kuah gulai yang kental aroma santan yang gurih menyatu sempurna dengan saus kacang yang lembut. Campuran bahan bahannya seperti kol, mie kuning dan pakis seakan menambah segar asupan lontong sebagai bahan utama. Ditambah kerupuk yang renyah, membuat masakan ini semakin kaya rasa.

Dan asiknya lagi, semua diracik di depan kita, mulai potongan ketupat, potongan kol yang dicampur dengan mie sampai guyuran kuah gulai dan saus kacang, seakan seperti fourplay sebelum makan untuk memancing selera ini untuk segera bangkit!

Setelah habis sepiring berdua ketupek pical, kini giliran Nasi Kapau Uni Lis yang terkenal kita kunjungi. Sebenarnya “Kapau “adalah sebuah desa di dekat Bukittinggi yang memiliki karakter masakan yang berbeda. Ternyata nasi Kapau sedikit berbeda dengan nasi Padang, dimana gulai di nasi kapau santannya tidak sepekat nasi padang dan lebih banyak bumbu dan lebih pedas. Begitu menurut seorang bapak yang makan di sebelah kami, yang ternyata juga penggemar nasi Kapau dari Jakarta .

“Nasi Kapau di Jakarta paling enak di daerah Senen, tapi tetep aja ga seenak disini” ujarnya sambil tertawa. Akhirnya si Bapak juga yang menyarankan untuk memesan gulai tambusu, yaitu usus sapi yang diisi dengan kocokan telur dan direbus dalam kuah bersantan. Tak lupa juga memesan gulai kikil yang juga jagoan dari nasi Kapau ini. Jadi menunya adalah usus sapi dan kikil yang dimasak di kuah bersantan. Memang menu ini cocoknya sepaket dipasangkan dengan medical check up.

Yang unik dari warung nasi kapau adalah kita memesan menu yang ada di cambung besar yang tersusun meningkat di depan kita, dimana sang Uni akan menyendok pesanan kita dengan sendok yang panjang. Dan semua pesanannya pasti ditambahkan gulai rebung, daun bawang, kacang rendang, lobak, dan gulai nangka muda sebagai kuahnya yang dicampur dengan nasi.

Ukuran tambusu dan kikilnya yang lumayan besar, hampir menutupi nasi yang seakan tertimbun dibawahnya, gulai dengan segala isinya menambah padat isi piring yang disuguhkan. Saya mengambil strategi dengan meminta piring kosong untuk memisahkan tambusunya. Cukup berhasil.

Tambusunya sangat lembut dan kikilnya yang kenyal empuk memang juara!. Bumbu gulainya yang berperan besar membuat citarasa hidangan ini menjadi penuh citarasa. Gulai yang gurih dan kental lembut dengan tekstur pedas sangat cocok dengan keseluruhan makanan.

Namun sayang porsi yang cukup besar bagi kemampuan makan saya membuat saya menyisakan beberapa potongan tambusu dan kikil di piring. Mungkin lebih baik apabila memesan tambusu dan kikil satu porsi untuk berdua, bagi orang dengan porsi kecil seperti saya. Apabila nanti porsinya kurang toh hidangannya ada di depan mata, tidak menunggu lama untuk menyiapkannya.

Los Lambuang jelas menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda. Selain nikmatnya makanan yang disajikan, posisi yang ditengah pasar menawarjan keramahan tersendiri. Tempat yang kecil dan penjaja makanan yang duduk di depan kita semakin membuat hangat suasana. Menjadikan Los Lambuang sebagai tempat kuliner yang harus dikunjungi.

Leave a comment

Mainmakan travelblog adalah kumpulan cerita perjalanan traveling dan kuliner, merupakan sarana berbagi pengalaman bagi kita semua, ayo ceritakan pengalaman anda. Klik disini untuk lebih lengkapnya

WE ARE PART OF :