Oct 15, 2016
admin

CAPE TO CAPE :Leeuwin – Naturaliste National Park, Western Australia


Oleh : Phialrdi Ogi

Lelaki bertopi koboi dengan ransel besar di punggungnya tersenyum melihat saya yang bersilat mengusir serbuan lalat yang menggangu. “Musim seperti sekarang memang mengundang banyak lalat di daerah ini, nanti kita coba pakai daun pepertmint ini untuk mengusir mereka” ujar lelaki tersebut.

Saul Cesewell, lelaki bertopi tadi adalah seorang pemandu di Leeuwin – Naturaliste National Park, di Margaret River, Australia Barat. Taman Nasional ini ibarat ditulis dengan tinta yang samar dalam buku promosi Australia Barat, kalah pamor dibanding Nambung National park dan taman Nasional Kalbarri.

Namun siapa sangka, pengalaman hiking di taman nasional ini malah menjadi Highlight perjalanan saya di Australia Barat. Padahal saya hanya mencicipi “sedikit” saja taman nasional ini. Sedikit karena taman nasional Leeuwin – Naturaliste sebenarnya terbentang 120 km di pesisir semenanjung Limestone, kurang lebih sama dengan panjang Tol yang melintasi Bandung-Jakarta. Namun kali ini saya menjelajahi kurang lebih 2 km saja dari semenanjung Smith Beach ke semanajung Canal Rocks, Bussleton. Jalur yang saya jelajahi adalah termasuk kedalam jalur “Cape to Cape” yaitu jalur hiking yang melintasi seluruh taman nasional Leeuwin- Naturaliste.

Saul memberikan sebatang ranting dari pohon peppermint, lalu meminta saya untuk mengibaskan ranting yang dipenuhi daun tersebut ke badan saya agar aroma peppermint mengusir lalat yang menggangu. Benar saja, sepanjang jalan saya tidak lagi diganggu oleh mahluk menyebalkan tersebut. Saul kembali menerangkan, sebenarnya lalat memiliki peran dalam proses mata rantai taman nasional yang memiliki 3200 hektar hutan dengan pohon peppermint dan banksia ini.

Perjalanan cape to cape memiliki medan yang beragam, mulai dari jalan aspal, jalur setapak berbatu, dan jalur setapak berpasir. Ketika Saul membawa saya berjalan mulai menapaki jalan tanah setapak, dari belakang belakang semak muncul dua ekor kangguru liar yang memperhatikan kedatangan kami. Seekor kangguru dewasa dan seekor kangguru kecil tak tergubris dengan kedatangan kami yang mulai mendekati untuk mengambil foto. Semananjung Pantai Smiths ini memang habitat alami bagi kangguru abu abu dan beberapa spesies mamalia seperti wallaby, Possum bahkan beberapa jenis anjing laut.

Saul membawa kami lebih jauh ke arah pesisir dengan jalan berpasir dan semak yang lebih rapat. Lalu ia memetik daun dan meminta kami untuk mencicipinya, ia menamakannya bush food yaitu semak yang memang bisa dimakan. “apabila anda kelaparan dan tersesat , anda bisa bertahan dengan memakan tumbuhan ini” ujarnya sambil bercanda. Sambil berjalan, Saul menegaskan, bahwa tumbuhan di tanah Australia memang tidak beragam seperti di Indonesia, karena tanah di Indonesia yang kaya akan nutrisi sedangkan tanah Australia purba lebih gersang, menjadikan tumbuhan harus bersaing untuk mendapatkan mineral dan nutrisi dari dalam tanah. Ini yang menjadikan tumbuhan di Austalia unik dan tidak dapat ditemukan di tempat lain, salah satu contohnya adalah tumbuhan khas Australia Barat, yaitu tumbuhan Jarrah, Marri dan karri yang tumbuh di pesisir barat taman nasional ini.

Udara yang segar dengan hembusan angin laut mediterania memberi semangat dalam perjalanan kami, walau kami mulai menapaki jalan setapak yang menanjak. Saya bejalan menaki bukit pelan dengan memilih jalur dengan meliuk liuk untuk mencari permukaan lebih rata antara campuran tanah dan kerikil. Saul menjelaskan kepada kami, bahwa pemerintah tidak memperkenankan membentuk jalur permanen untuk hiking, hanya sebatas patok kayu untuk menandakan jalur, Hal ini dimaksud agar kelestarian alam taman nasional ini tetap terjaga.

Tiba diatas bukit, kami disuguhkan pemandandangan yang menawan, hamparan semak berwarna hijau dan kuning berpadu kontras dengan bebatuan berwarna merah menghadap ke laut lepas. Terlebih cahaya matahari yang mulai condong ke barat memantulkan warna keemasan yang lebih dramatis. Ah, letih berjalan menaiki bukit pun terbayar sudah.

Puncaknya, Saul mengajak kami untuk turun ke pantai Smith bagian barat. Sambil menunggu matahari tenggelam kami bersama sama berkumpul di tepi pantai. Hembusan udara dingin tidak mnyiutkan nyali saya untuk berenang di laguna Smith beach, namun seperti perkiraan saya, airnya dingin seperti es yang mencair. Di laguna ini saya menikmati berenang bersama ikan yang terperangkap laguna ketika pasang. Tapi itu tidaklah lama, karena dengan hangatnya matahari yang sudah sedikit menghilang and angin yang mulai kencang, air dinginnya membuat badan ini semakin mengkerut.

Tak lama berselang, momen yang ditunggu pun datang. Matahari mulai meleleh di garis cakrawala, tenggelam ditelan lautan .Langit menunjukan gardasi lembayung warna oranye dan ungu, merubah lansekap air laut dan karang bebatuan menjadi berwarna kemerahan. Panorama ini membuat kami semua tertegun menikmati keindahannya . Saul memang jeli membawa kita ke pantai dengan tekstur pasir dan bebatuan ini, ketika matahari terbenam, tekstur pantainya membuat pemandangan sunset memiliki foreground bebatuan yang indah, membuat momen sunset ini menjadi lebih fotogenik.

Leave a comment