Browsing articles in "Budaya"
Feb 3, 2015
admin

VIDEO : Wae Rebo, Flores Indonesia.

Sekelumit cerita dari sebuah desa di atas awan, Desa Wae Rebo, Flores.

Lagu : “Senandung Sore” – Sore.

Jan 16, 2012
admin

Desa Pallawa, Tana Toraja


Oleh : Philardi Ogi
Continue reading »

Oct 6, 2011
admin

Desa Panglipuran,Bali


Oleh Philardi Ogi
Continue reading »

Apr 7, 2011
admin

Siam Street Food

You are what you eat. Saya adalah orang yang mempercayai bahwa makanan menjadi cermin dari budaya identitas dari suatu daerah. makanan dari suatu tempat sangat terpengaruhi oleh sumber daya, iklim dan vice versa-budaya itu sendiri. Ini yang membuat traveling dan kuliner menjadi sahabat sejati yang saling melengkapi. Setiap daerah yang saya kunjungi selalu memiliki keunikan dalam hal kuliner, dan memberikan pengalaman baru.

Hal ini juga yang saya sadari ketika ketiga kalinya mengunjungi Thailand. Negeri gajah putih ini memang memiliki kuliner khas yang mendunia seperti Tom Yam, Pad Thai atau green currynya. Namun mencuri perhatian saya adalah budaya penjual makanan pinggir jalannya yang menjamur. Hampir seluruh jalan di Bangkok, Phuket atau jauh di selatan seperti Hat Yai sekalipun, kita bisa melihat penjaja makanan di pinggir jalan, terkadang trotoar jalan menjadi lebih seperti pasar makanan ketimbang tempat berlalu lalang.

Keunikan penjaja makanan di Thailand adalah memiliki keragaman yang sangat bervariasi. Berbeda tempat dan waktu berbeda maka pula makanan yang ditawarkan. Seakan seluruh kekayaan alamnya dapat disajikan dalam racikan yang unik dan beragam.

Menurut David Thompson dalam bukunya ”Thai Street Food”, sejarah penjaja makanan di Thailand dimulai oleh pengaruh oleh masuknya pelancong Cina ke Thailand pada awal abad 20, seiring dengan transformasi kerajaan Siam menjadi Thailand yang modern. Imigran Cina yang hidup di asrama kecil bersama dengan pelancong lainnya kesulitan untuk membuat makan di tempat tinggal mereka karena keterbatasan ruang, Akhirnya membeli makan di pinggir jalan.

Seiring dengan pesatnya penduduk cina yang bermigrasi, menjamur pula penjaja makanan yang menyediakan makanan dengan cara menggendong jualannya keliling kota. Makanan yang dijajakan umumnya adalah masakan yang sudah dimasak dan siap saji, dan biasanya berkeliling di jalanan setengah hari, dikarenakan makanan saji yang tidak tahan lama. Ketika hari berganti malam, berganti pula pedagang dan jenis dagangan yang disajikan.

Namun penjaja makanan seperti saat ini baru dimulai sekitar tahun 1960an, dimana arus urbanisasi di Thailand mulai mengalir. Dengan infrastuktur yang mulai dibangun, jalur distribusi bahan makanan ke kota besar menjadi lebih mudah, membuat penjaja makanan menjamur di kota besar dan pusat keramaian kota. Keranjang gendong pun mulai ditinggalkan diganti gerobak dorong yang dilengkapi tempat memasak yang instan.

Sesuai budaya makan dari masyarakat Thailand, jenis makanan jalanan berdasarkan dari waktu. Pagi, siang dan malam hari. Waktu pagi adalah dimana mereka menjajakan makanan ringan atau buah untuk sarapan untuk dibawa, biasanya yang dijajakan adalah makana cepat saji. Favorit saya adalah campuran nasi dan telur dadar, tak lupa Thai ice tea khas Thailand. Siang hari, makanan berat cepat saji dan snack berat memenuhi sisi jalan. Dan malam hari menjadikan jalanan negeri ini menjadi lebih meriah, karena dimalam hari biasanya pedangang menyediakan meja dan bangku untuk makan di tempat, dimana yang disajikan bukan lagi cepat saji, dan menjadi surga bagi pencinta kuliner,

Yang menjadi makna dari penjaja makanan ini adalah mereka tidak hanya menjual makanan, namun menjadi bagian dari rantai dari kehidupan sosial masyarakat. Dimana mereka bertemu dengan pedagang setiap hari, tempat bertukar informasi dan bersosialisasi.