Jan 16, 2012
admin

Desa Pallawa, Tana Toraja


Oleh : Philardi Ogi

“Beautiful” Satu kata itu yang ditulis Sergio Sebmaya, seorang pejalan dari Paris dalam kolom “Kesan-kesan” di buku tamu desa Pallawa. Kebetulan baris yang saya harus isi tepat terletak satu baris dibawah barisnya Sebmaya. Mencermati 2 halaman buku tamu ini, hanya ada 2 orang saja dari Indonesia dari 40an tamu yang datang, sisanya dari mancanegara. “Kalo orang Indonesia biasanya tidak menulis” ujar seorang ibu penjaga buku tamu ketika saya berkomentar mengenai hal tersebut.

Sebmaya sudah beberapa kali mengunjungi Indonesia, dan selalu tertarik akan keragaman budayanya. “Seakan selalu ada budaya yang baru di setiap sudut negeri ini” ucap Sebmaya yang sebelumnya sudah mengunjungi Sumbawa dan Flores.

Desa ini tidak besar, juga terbilang sepi. Tidak banyak aktivitas yang terlihat di desa ini. Hanya ada beberapa anak-anak yang asyik bermain, wanita paruh baya yang menawarkan kerajinan dan kami turis yang asyik menikmati eksotisnya desa ini.

Pallawa adalah salah satu desa Tana Toraja yang terkenal akan barisan Tongkanan (rumah tradisional Toraja) yang masih terjaga kelestariannya walaupun sudah berdiri selama ratusan tahun. Jajaran Tongkanan yang nampak gagah berhadapan dengan jajaran alang atau lumbung padi yang sederhana, membuat aura etnik desa ini menjadi sangat kental.

Salah satu Tongkonan dihiasi tanduk kerbau yang berjajar, mencerminkan betapa gigihnnya keluarga tersebut mengumpulkan uang untuk perayaan Rambu Solo, mengingat harga seekor kerbau sangat mahal, bahkan kerbau yang bertotol merah muda harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Setelah beberapa lama, seorang nenek yang memperhatikan saya sejak pertama datang memanggil saya dari depan rumah Tongkonannya. Ternyata ia menjual kerajinan sebagai tanda mata. Dari jauh, ia membentangkan selembar kain khas Tana Toraja untuk menarik perhatian saya.

Saya hanya tersenyum, “Nek e Rante”, begitu ia menyebutkan namanya. Dengan bahasa Indonesianya yang tidak terlalu jelas, ia pun dengan ramah mengajak saya melihat kedalam tongkonannya,tempat ia menjajakan cendera mata. Kontras dengan tampak luar yang dekoratif dengan ukiran dan pajangan kerbau, dalam Tongkonan sangatlah sederhana, Tongkonan hanya dua sekat yang berdinding kayu.

Tongkonan Nek e Rante memang diperuntukan untuk jualan cindera mata, untuk memberikan pengalaman berbeda dimana kita bisa berbelanja di dalam tongkonan, tawar menawar pun menambah kehangatan antar kami berdua. Berbeda dengan kerajinan di desa Kete Kesu yang lebih bersifat dekoratif seperti ukiran khas Tana Toraja atau miniatur tongkonan, kerajinan di Desa Pallawa lebih berbau etnik. disni lebih banyak dijual miniatur Tau Tau, yaitu patung pasangan yang biasanya disimpan di makam, kalung dari tanduk kerbau, pajangan dari kaki babi dan banyak lainnya.

Pertemuan saya dengan Nek e Rante akhirnya ditutup dengan sesi foto, ternyata ia juga senang di foto, sambil terkadang terkekeh-kekeh melihat hasilnya. Menurut saya foto tersimpan di SD card kamera saya tersebut adalah souvenir sesungguhnya, terlebih perkenalan saya dengan Nek e Rante yang hangat.

1 Comment

  • Apa upaya pemerintah dan masyarakat lokal untuk melestarikan rumah adat tongkonan di Pallawa?

Leave a comment