Nov 21, 2012
admin

Kampung Komodo, Nusa Tenggara Timur.



Sekelompok anak-anak berpakaian lusuh berdiri di ujung dermaga memandang kami tajam ketika kami turun dari kapal, seolah kami adalah alien. Saya dan rombongan berlabuh di dermaga kampung Komodo, sekitar 20 menit dengan kapal laut dari Taman Nasional Komodo yang tersohor itu. Senyum anak-anak tadi mengembang setelah melihat Indra, ketua rombongan kami. Sepertinya mereka sudah bisa menebak tujuan kedatangan kami. Saya dan kawan-kawan memang berencana menyumbangkan buku pelajaran bekas dan buku mewarnai kepada satu-satunya Sekolah Dasar yang berdiri di kampung ini.

Kampung Komodo tidak besar,terdiri kurang lebih 300 keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Melalui pelatihan yang diberikan PT Putri Naga Komodo, beberapa beralih profesi menjadi pengajin yang patung komodo dari kayu yang di jual di Taman nasional Komodo sebagai sovenir. Dalam sehari seorang pengerajin bisa menghasilkan tiga sampai lima patung komodo dalam bentuk sedang.

Seorang anak menatap saya tajam, tak lama tangannya mengelumit telunjuk saya dan menarik saya untuk meninggalkan dermaga. Seakan mengajak saya untuk memperlihatkan suasana kampungnya. Azis namanya, usianya sekitar 4 tahun. Ia sepertinya tertarik dengan kamera yang saya tenteng. Namun ia tidak berkata sepatah kata pun ketika saya ajak bicara, hanya merespon dengan mengangguk atau menggelengkan kepala sembari tersenyum, entah kenapa. Azis pun terkadang melepaskan tangannya untuk membiarkan saya mengambil foto kampung ini. Dengan sesekali tersenyum dan bergaya mengisyaratkan ia pun objek foto yang tak kalah menariknya.

“Anak anak di kampung ini tidak memiliki cita-cita yang besar. Bagi mereka, mimpinya nanti adalah menjadi seorang Ranger di Pulau komodo” ujar Indra. Azis adalah anak Yatim, almarhum ayahnya dahulu adalah kepada desa ini. Azis sebenarnya anak yang cerdas, terlihat hanya dengan memperhatikan saja dia sudah tahu bagaimana melihat hasil foto di kamera saya. Makannya, saya ingin memperlihatkan bahwa masih banyak perkerjaan yang bisa digeluti, dan mereka punya cita-cita lebih nantinya. sambung Indra lagi.

Anak-anak tadi akhirnya mengekor rombongan kami yang berjalan kearah bangunan SD sederhana. Mereka sangat antusias menerima buku yang kami bawa didampingi oleh guru mereka. Pendidikan di Kampung Komodo dapat dibilang minim, hanya ada sebuah SD dan SMP di kampung ini. Apabila ingin melanjutkan ke SMU, maka harus pindah ke Flores. “Makannya anak-anak di Kampung jarang yang melanjutkan pendidikan setelah SMP” ujar Indra kembali.

Pada sore hari ketika matahari menyirami bukit dengan cahaya keemasannya, masyarakat kampung biasanya berkumpul di depan rumah untuk bercengkrama. Beberapa kepala keluarga terlihat bersiap melaut dengan mengurai jala mereka, terlihat juga ada yang sibuk membuat kerajinan patung komodo di depan rumah.

Rumah di kampung ini semuanya rumah berpanggung dari kayu, dengan jalan dari semen yang seadanya dan genangan air limbah yang tak teratur membuat kampung ini terkesan kumuh. Rumah panggung dibuat agar komodo dan binatang buas lain sulit untuk masuk kedalam rumah. Kolong rumah juga berfungsi untuk menyimpan barang dan kadang untuk tempat bercengkrama.

Sore hari pun menjelang, anak-anak pun kembali mengantar kami kembali pulang ke dermaga. Berbaris rapi melambaikan tangannya dari atas dermaga mengiringi kapal kami yang menjauh. Kami terenyuh, ternyata dibalik kehebohan pemilihan tujuh keajaiban dunia yang digembar gemborkan kepada dunia dan memakan biaya banyak (termasuk pulsa telepon saya). Masih tersimpan keprihatinan dalam taraf hidup masyarakat di dalamnya.

3 Comments

  • Kampung ini saat ini terdiri kurang lebih 40 buah rumah yang saling mengelilingi. Badan kampung tumbuh memanjang, dari utara ke selatan. Pintu masuk kampung hanya dari utara. Sementara ujung lainnya di bagian selatan sudah merupakan puncak sekaligus tepi tebing terjal.

  • [...] I) seluruh donasi akan ditujukan kepada sebuah SD di Kampung Komodo, Flores NTT seperti kami tulis disini. Dengan membeli kaos DONATEE seharga Rp 95.000 maka seluruh keuntungan sebesar Rp 60.000/ kaos akan [...]

  • [...] donasi akan ditujukan kepada sebuah SD di Kampung Komodo, Flores NTT seperti kami tulis disini, dan Ebook perjalanan ke TN Komodi bisa di download disini. Dengan membeli kaos DONATEE [...]

Leave a comment