Oct 24, 2016
admin

ROTTNEST ISLAND, Western Australia


Oleh : Philardi Ogi

“Jangan lupa untuk berpofoto bersama Quokka ya! Quokkafie!”

Beberapa pesan dengan nada serupa muncul di sosial media ketika memberitahukan bahwa saya akan bertandang ke Rottnest Island.

Pulau Rottnest memang terkenal dengan marsupial endemik Quokka yang juga bertangung jawab membuat pulau ini bernama Rottnest. Adalah Willem de Vlamingh pada tahun 1696 yang petama kali menamai pulau ini demikian, Rottnest dalam bahasa Belanda berarti Rat nest atau sarang Tikus. Quokka memang sekilas perpaduan antara tikus, Kangguru dan marmut. Disebut juga sebagai binatang paling bahagia di dunia karena memiliki bentuk wajah seakan tersenyum.

Tapi tidak hanya Quokka, Pulau Rottnest menawarkan paket pariwisata yang komplit. Berjarak 18 km dari kota Fremantle, mendarat di pulau Rottnest seakan menemukan dunia yang berbeda. Landskap dengan tanah kapur dengan luas 19 km2 dengan panorama sekelas pulau tropis mediterana, Pantai dengan pasir putih dan air yang berwarna biru dengan kontur tanah yang berbukit.Walaupun demikian jalan yang berliku dan kontur yang berbukit cukup memakan waktu apabila pulau ini dikelilingi.

Natasha, Sorang petugas dari Rottnest Authority memberikan pedoman bagi kami untuk sejauh mana kami dapat mengeksplorasi pulau ini dengan waktu yang kami miliki, dan juga ia menyarankan beberapa titik dimana biasanya kita dapat bertemu dengan Quokka. “Apabila kalian sudah mencapai mercusuar Wadjemup Lamp, kalian bisa menaiki mercusuar untuk mendapatkan keseluruahan pulau, namun saya sarankan untuk tidak berpergian lebih jauh karena waktu kalian terbatas” ujarnya mengngatkan bahwa ferry yang akan membawa kami pulang akan berangkat tepat pukul dua siang.

Salah satu keunggulan dari pulau Rottnest adalah kemudahannya untuk dijangkau, kita dapat menjangkau pulau ini dari Pelabuhan Perth, Hillarys Boat Harbor atau seperti saya, berangkat dari dermaga Fremantle yang hanya memakan waktu 40 menit saja. Walaupun terbilang pulau kecil, Rottnest juga menyediakan bandara untuk pesawat kecil bagi anda yang ingin merasakan sensasi melihat pulau ini dari tampak aerial. Atau apabila anda adalah seorang anggota marinir atau kopassus, bisa saja menyebrangi laut ini dengan berenang dari tanjung paling dekat di Fremantle sejauh 17 km.

Mengingatkan saya akan Gili Trawangan di Lombok, pulau ini hanya bisa diakses oleh sepeda dan jalan kaki. Kendaraan bermotor dilarang beroperasi di pulau ini, salah satunya karena suara kendaraan bermotor akan menakuti satwa Quokka. Di pulau ini pula, tidak ada hingar bingar atraksi untuk untuk memikat turis, pulau ini dibiarkan seperti adanya dan kami dibiarkan untuk menjelajah pulau ini, toh jalan yang sudah dibuat tidak akan membuat kami tersesat jauh.

Saya beruntung, ketika baru saja berjalan lima puluh meter dari dermaga, seekor Quokka yang nampaknya tersesat mendekati kami, ia terpisah jauh dari habitat aslinya. Biasanya Quokka mudah di temukan di titik vegetasi daerah perbukitan. Tampaknya Quokka yang satu ini gemar berkekplorasi dan tak tahu jalan pulang. Quokka juga merupakan salah satu satwa yang bersahabat, ia tidak takut dan segan akan kedatangan manusia. Tekadang, ia mendekati manusia untuk meminta makanan.

Pulau yang di namakan Wadjemup oleh suku asli Aborigin, sebenarnya dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur suku Aborigin. Ironisnya adalah, tempat ini juga pernah dijadikan tempat pembuangan suku aborigin yang bertempat di sebuah penjara bernama The Quod, yang kini telah bertansfrormasi menjadi sebuah hostel.

Tak pelu lama bagi saya mengayuh sepeda dari dermaga utama Thompson Bay untuk menemukan landskap yang fotogenik. Hanya lima menit berepeda ke arah utara, saya sudah disuguhi pamandangan pesisir yang cantik. Bathurst Point, disini terdapat sebuah mercusuar dengan suguhan pantai berbentuk sabit yang indah.

Dari awal rencana bertandang ke Rottnest saya tidak punya rencana untuk berenang di pantai ini, saya berencana mengisi memory card saya dengan panorama pantai pasir putih yang berpadu dengan mercusuar dan latar belakang langit biru yang kontras. Tapi godaan air laut berwarna biru itu terlalu kuat, saya pun luluh dan membiarkan saya tergoda untuk berenang di air lautnya yang jernih. Ternyata airnya dingin seperti air es, saya lupa bahwa saya tidak berada di negara tropis dengan air laut yang hangat.

Saya melanjutkan perjalanan dengan memutar sedikit untuk merasakan sensasi bersepeda dengan melahap kontur yang berbukit. Jalan di pulau ini sepertinya memang sengaja dibuat bersebelahan dengan panorama laut yang dibatasi pagar kayu saja, pemandangan laut ini membuat kita terbuai dan lupa akan lelah mengayuh sepeda.

Kunjungan saya ditutup dengan makan siang di kedai Aristos yang menghadap ke laut. Pilihan makan siang saya jatuhkan ke piilhan menu hidangan khas Australia, Fish and Chips yang ditaburi madu, dengan minuman lemon lime bitters yang menyegarkan, penutup yang sempurna di pulau Rottnest.

3 Comments

  • Waktu itu kami nekad, pengen ngiterin seluruh pulau naik sepeda dan ngejar jam ferry terakhir. Akhirnya besoknya kaki kayak mau copot gara2 diforsir ngayuh sepeda….haha. Tapi memang seru ya keliling naik sepeda di Rottnest. Kayaknya lain kali ke sini coba nginep seru kali ya :)

    • nah itu mba Susan, nextnya juga rencana buat nginep dan snorkling di pantainya yang jernih sampe puasss hahaha

  • wah kece pemandangannya kak. binatang Quokka nya gak diupload sini kak?

Leave a comment