May 9, 2011
admin

Santap Siang di Kampung Naga



Puluhan anak tangga yang saya turuni tampak meliuk rapi, seakan ramah menyambut kami untuk menuruninya. Tampak kejauhan tempat tujuan kami sudah terlihat, Kampung Naga. Tapi tujuan saya datang bukan hanya mengunjungi dan melihat rumah di tempat ini saja, namun kami akan santap siang bersama di salah satu rumah Kampung Naga,excited!

Kampung Naga memang salah satu mahkota budaya pariwisata Jawa Barat, kabupaten Garut khususnya. Hampir semua orang sudah tahu mengenai kampung ini, kalo belum, silahkan wiki. Kami ditemani Kang Ijad, salah satu Guide anggota HIPANA yang akan mengantar kami dan menceritakan mengenai Kampung Naga.

Setiba di kampung naga, kami bertemu dengan sekumpuan anak berseragam SD duduk berjejer rapi di pinggiran sungai. “Punten”, sapaku ketika melewati mereka, mencoba menghormati mereka yang melirik kami. “Mangga” jawab mereka sambil disertai tawa kecil. Kampung Naga juga terkenal dengan keramahan penduduknya, selain sudah biasa menerima pengunjung, menurut Kang Ijad Masyarakat kampung Naga sudah diajarkan tata karma untuk menghormati orang lain dan tenggang rasa yang tinggi bahkan semenjak usia dini.

Saat makan siang tiba, kami menuju rumah ketua RT Kampung Naga,pak Risman namanya. Kami disuguhkan makanan yang dimasak oleh para ibu rumah tangga setempat. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari makanannya. Ayam bakar, ikan goreng, sayur dan tempe. Namun ketika bersantap di lantai ruang tengah, pak RT yang menjelaskan secara detil budaya Kampung Naga, dan interaksi dengan ibu rumah tangga Kampung Naga yang ramah seolah memberikan pencahayaan atas gaya hidup yang kerukunan yang sebenarnya.

Seluruh rumah di Kampung Naga seragam, beratapkan ijuk dan berdinding bilik anyaman yang dicat putih kapur. Terdapat 108 bangunan rumah di Kampung ini, ditambah 3 bangunan umum yaitu Mesjid, bale pertemuan dan lumbung padi. Tidak ada satu bangunan yang dialiri listrik.

“Apabila disini ada listrik, maka orang akan membeli barang elektronik, seperti kulkas, tipi (televisi). Takutnya nanti akan ada yang iri, ketika ada yang membeli tipi, trus tetangga sebelahnya akan kepingin juga beli tipi, kalo udah tipi kulkas, terus aja ga akan berhenti.” Ucap Pak Risman dengan logat sundanya yang kental.

Masyarakat kampung naga membatasi diri atas modernisasi bukan hanya karena prinsip leluhur untuk melestarikan adat budaya, namun juga untuk melestarikan kerukunan hidup di kampung tersebut. Modernisasi yang penuh dengan kekayaan materi akan menyulut kecemburun sosial, yang akhirnya akan menjurus kepada gaya hidup yang mementingkan duniawi.

Sore hari ketika rombongan kami hendak pulang, dijalan kami menyapa penduduk Kampung Naga yang sedang bersantai di tepi sungai, menikmati suara gemericik air dan hamparan sawah hijau yang memanjakan mata. Seakan mereka memberikan isyarat, bahwa kehidupan yang sederhana jauh lebih nyaman ketimbang mengejar kebutuhan materi dan mementingkan kehidupan duniawi.

Sayangnya budaya nilai leluhur yang dicerminkan dalam keseharian ini hanya jadi bahan tontonan pendatang, padahal kita bisa belajar banyak mengenai kesederhanaan dan juga tenggang rasa yang kuat antara masyakatnya.

Leave a comment