Mar 18, 2014
admin

Desa Tanaberu & Desa Tanetang, Kabupaten Bulukumba,Sulawesi Selatan : Pengerajin Kapal Phinisi.


Oleh : Philardi Ogi

Sawarigading, seorang putra mahkota mahkota kerajaan Luwu, rela mengarungi lautan luas untuk meminang We Cudai, seorang puteri dari kerajaan Cina. Demi kekasih hatinya ia pun membuat perahu yang besar, kuat dan handal untuk megarungi samudra. Namun seakan takdir yang tidak merestui, dalam perjalan pulang kapal diterjang badai dan terbelah menjadi tiga bagian yang hanyut dan terdampar di tiga lokasi berbeda, Ara, Lemo-Lemo dan Tana Beru.

Diatas adalah petikan cerita kuno suku Bugis, La Galigo. Dan saat ini saya memasuki Tana Beru, sebuah desa yang menurut legenda adalah salah satu desa tempat kapal Sawarigading terdampar dan dibuat kembali menjadi kapal 2 tiang 7 Layar, yang kita kenal sebagai kapal Phinisi. Entah cerita diatas itu adalah kisah nyata atau hanya dongeng belaka, namun seperti selayaknya mitos yang melekat, cerita tesebut seakan menjadi penguat identitas budaya desa ini bahwa nenek moyang suku Bugis yang berada di Tana Beru adalah pembuat kapal yang handal.

Perahu Pinisi adalah kapal tradisional masyarakat Bugis sejak berabad silam. Pembuatannya dirancang dengan perhitungan sederhana yang diajarkan turun-temurun oleh nenek moyang, tidak mengenal perhitungan tehnik engineering yang rumit. Identitas kapal Pinisi adalah dua tiang dan tujuh layar. Tiga di depan, dua di bagian tengah, dan dua bagian belakang. Tujuh layar itu memaknai bahwa Suku Bugis mampu mengarungi tujuh samudera.

Pembuatan kapal Phinisi juga mengandung filosofis budaya yang dalam. Contohnya bila kapal dibuat untuk mencari nafkah dari laut, potongan balok pertama sebagai rangka bagian depan yang tidak terpakai harus dibuang ke laut. Agar menjadi penolak bala untuk meminta ijin melaut untuk mencari nafkah, sedangkan balok bagian belakang disimpan di rumah. Balok depan sebagai perlambang suami yang mencari nafkah di laut dan balok belakang sebagai perlambang isteri yang setia mengunggu dirumah.

Perjalanan saya ke Tana Beru tidak semulus yang dibayangkan, Pete-pete atau angkot tidak resmi dari Makassar sedikit menyiksa saya selama empat jam perjalanan. Berjejalan dengan sepuluh orang lainnya dalam mobil minibus yang ugal-ugalan cukup membuat perut terkocok dan kepala berputar. Suguhan lansekap yang indah ketika melwati Jeneponto dalam perjalanan tidak dapat mengobati rasa mual dan pusing kepala.

Di Desa Tana Beru, saya sudah berjanji untuk bertemu dengan seorang teman yang asli desa ini. Erwin namanya. Tana Beru merupakan perkampungan sederhana, rumah adat panggung berjejer rapi, beberapa anak kecil bermain bola di jalan beton yang rapi, kontras dengan kondisi jalan aspal Makassar –Bulukumba mengocok perut.

Erwin memperkenalkan kami dengan seorang pengusaha kapal Phinisi, namanya Bpk H. Abdullah Hasan, biasa dipanggil pak Dullah. Penampilannya sederhana, tak terlihat sebagai pengusaha besar. Sebatang rokok kretek seakan tidak pernah lepas dari jepitan jarinya. “Kapal yang paling ujuang sudah hampir jadi, tinggal menunggu beres di cat saja, pesanan orang Singapura” seraya menunjuk kapal Phinisi yang setengahnya berwarna putih.

Tepi pantai Tana Beru tersusun rapi jajaran kapal Phinisi yang sedang bangun. Mulai dari yang hampir rampung hingga baru kerangka. Dari yang kecil sampai yang panjangnya 30 meter. “ini untuk orang Amerika yang tinggal di Bali dan yang ini untuk orang Inggris” ujar pak Dullah seraya menunjuk ke dua kapal yang setengah jadi yang berbaris berdampingan. Kisaran harganya sekitar satu sampai dua milyar Rupiah. Harga yang membuat saya menganga.

Di dalam kapal, fasilitas seperti tempat makan, kamar mandi dan dapur terasa sangat mewah dan modern. Namun secara eksterior tetap mempertahankan bentuk asli dari kapal Phinisi, yaitu 2 Tiang Tujuh layar. Menurut pak Dullah, kelengkapan interiornya tergantung dari pemesan, bahkan tak jarang pemesan meminta menggunakan bahan bahan modern, misalnya fiberglass. Namun yang penting bentuk dan cara pembuatan tidak berubah, karena itu adalah warisan turun temurun.

kebanyakan perahu yang dipesan dibuat untuk beragam keperluan, bisa sangat beragam untuk keperluan pribadi atau komersil seperti agen wisata pelayaran atau operator penyelaman. Fasilitas kapal pun biasnya menyesuaikan dengan fungsi. Namun dalam 5 tahun terkahir, hanya satu-dua saja pemesan dari dalam negeri kebanyakan pemesan datang dari luar negeri.

Selain Tana Beru yang sudah mendunia, terdapat juga Dusun Tanetang sebagai salah satu desa produsen kapal Phinisi. Dusun Tanetang terletak di pantai Panrang Luhu yang luar biasa Indahnya. Pantai ini terbentang panjang hampir 2 Kilometer, pasir putih seperti terpung dan biru air laut memanjakan pandangan saya.

Saya beruntung, kebetulan saat itu sedang dibuat kapal Phinisi sepanjang 50 meter yang hampir rampung. Kapal ini merupakan Pesanan orang Portugal yang dipesan dari Bali. Kala itu pengerjaan baru 7 bulan dari target pengerjaan 10 bulan, bentuk kapal yang megah sudah terlihat dan saya tiak lama bagi saya untuk meminta ijin untuk naik ke geladak kapal yang hampir rampung.

Walaupun besar, namun sama seperti di Tana Beru, pembuatan kapal Phinisi dilakukan dengan cara tradisional, dengan mengadopsi teknologi dan bahan yang modern sesuai pesanan. “Pengerjaan kapan seperti ini bisa sampai 16 bulan, tergantung dari permintaan pembeli” ujar Pak Muslim, salah satu pembuat kapal.

Pak Muslim juga menegaskan bahwa disini pun dibuat kapal-kapal kecil untuk nelayan, sekarang sedang dibuat dua pesanan kapal Phinisi yang semuanya dari luar negeri, tidak pernah sekalipun dalam tiga tahun terakhir pak Muslim dan teman-temannya kekeringan pesanan. “Selain suka dengan bentuknya, mereka juga suka dengan kualitas kapal yang bagus” ujar pak Muslim dengan bangga.

Kebudayaan membuat kapal sudah melekat di desa ini, hingga dijuluki Bumi Panrita Ropi, atau tempat ahli pembuat kapal. Mereka tidak hanya menjadikannya sebagai mata pencaharian, namun juga sebagai identitas kebudayaan yang bisa membuat mereka membusungkan dada menyandangnya. Terlebih mereka bukan hanya bangga sebagai pembuat kapal berkualitas, namun juga bangga dapat mengharumkan nama bangsa di dunia internasional.

2 Comments

  • Anda bayangkan suatu saat nanti dimana kayu menjadi langka karena pembalakan hutan..berapa harga kapal indah ini..? Bahan baku kayu untuk kapal spt ini seharusnya menpunyai sertifikat sehingga bisa diyakini bukan hasil penebangan ilegal..

  • Entah mahal atau murah ya harga segitu? Menakjubkan sih kapal Phinisi. Oya, untuk liat pembuatan kapal Phinisi ini butuh syarat khusus (misalnya bayar dll) atau bisa dateng sesuka hati?

Leave a comment