Sep 29, 2015
admin

TIGA HARI DI SEOUL – HARI PERTAMA: NAMI ISLAND


Oleh : Philardi Ogi

Indikator Suhu udara menunjukan angka minus tiga di smart phone saya, padahal ini sudah pukul sepuluh pagi. Walaupun sudah memasuki musim gugur dan salju sudah mencair, namun cuaca yang cukup berangin membuat saya kembali membenamkan diri dalam setelan tiga lapis. Hari ini saya sudah memiliki janji dengan operator tur lokal untuk mengunjungi Nami island. Sebuah pulau kecil yang harus ditempuh jalan darat selama 1,5 jam. Tempat meeting point yang dijanjikan hanya berjalan lima menit dari hotel tempat saya menginap di daerah Myeongdong.

Saya mengira dengan suhu yang mengigit ini jalanan di kota ini akan sedikit lenggang. Namun sepertinya tidak ada kata menyerah bagi penduduk kota ini karena pada pagi hari jalanan sudah dipenuhi turis dan penduduk lokal yang berlalu lalang.

Seoul

“Selamat Pagi, ayo silahkan” ketika berjalan, saya dikejutkan oleh seorang lelaki paruh baya yang menawarkan jajanan makanan dalam bahasa indonesia. Teknik tersebut berhasil,, akhirnya saya menyambangi lapaknya yang merupakan gerobak sederhana beratapkan terpal. Bapak ini menjual Odeng, atau gorengan yang ditusuk seperti sate dan dilumuri bumbu khas korea yang pedas manis. Sepertinya bapak ini sudah biasa bertemu turis dari indonesia, terlihat dengan lihainya menunjukan Odeng mana saja yang mengandung daging babi. Yang membuat saya menjatuhkan pilihan kepada odeng yang terbuat dari ikan dan daging ayam. Selesai menghabiskan Odeng, Si bapak menyodorkan sebuah gelas kertas yang berisikan kuah kaldu, saya sempat ragu mencicipi kuah tersebut, namun ternyata kuah kaldunya sangat lezat. Gurih namun tidak pekat, dan hangat. Cocok untuk menutup hidangan sarapan saya.

Seoul

Akhirnya tepat pada pukul 09.30 saya berangkat menuju pulau Nami menggunakan bis kecil bersama beberapa turis lainnya. Pulau Nami sebenarnya terbentuk dari luapan sungai Han bagian utara, dikarenakan pembangunan bendungan Cheongnyeong di tahun 1944 yang membentuk sebuah pulau seluas enam km2. Pulau Nami sendiri dinamakan dari seorang Jendral Korea yang dimakamkan dipulau ini, yaitu Jendral Nami.

Untuk mencapai pulau Nami, saya berhanti di Namiseom. Waktu menunjukan pukul 11.00 ketika kami bertolak menggunakan feri untuk mencapai pulau Nami. Hanya berselang 10 menit, Saya saudah disambut sebuah gerbang dan tulisan “Welcome to republic of Naminara”. Unik memang, kita disuguhkan pengalaman seolah Pulau Nami adalah negara sendiri, Negeri Khayalan lebih tepatnya. Kami diwajibkan membeli “Entry Visa” yang sebenarnya adalah karcis masuk. Bahkan pulau Nami memiliki mata uang sendiri untuk belanja, walaupun mata uang Won masih diterima untuk berbelanja di pulau ini.

Nami Island

Nami Island

Nami Island

Tak sampai lima menit berjalan, keindahan pulau Nami sudah mulai terasa. Satu sisi pepohonan besar berbaris simetris membuat suatu garis. Disisi lainnya padang rumput luas yang menghijau mulai melepaskan diri dari salju, dihias latar belakang jejeran pohon maple yang menjulang. Ditemani aroma tanah basah dan angin sepoi yang membuai, saya larut dalam eforia romantisme.

Eforia ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh saya, beberapa muda mudi Korea juga memilih pulau ini untuk memadu kasih. Ada pasangan yang besepeda diantara pohon maple, pasangan yang piknik di tengah padang rumput, atau sekedar menyusuri jalan setapak dengan anjing peliharaan mereka. Pulau ini memang cocok bagi mereka yang ingin lepas dari hingar bingar kota Seoul dan menyepi dengan pasangan.

Nami Island

Nami ISland

Nami Island

Pengelola pulau juga sepertinya sengaja menanamkan imaji romantisme kedalam pulau ini, terihat dengan dibangunnya patung berbentuk hati untuk diabadikan. Namun melambungnya nama pulau ini ke dunia internasional tidak lepas dari peran drama korea “Winter Sonata” yang meledak hingga ditanyangkan televisi tanah air. Beberapa episode drama korea yang mengambil setting di pulau ini pun masih diabadikan dalam bentuk poster, bahkan lengkap dengan patung pemeran utamanya.

Saya kembali ke kota Seoul ketika matahari sudah rampung melaksanakan tugasnya, perut dan lidah saya masih teringat oleh suguhan street food yang saya santap tadi pagi. Akhirnya saya memutuskan untuk menikamati sisa malam dengan berbelanja dan mencicipi street food di jalanan Myengdong. Ternyata selain jalanan menjadi lautan manusia, di Myeongdong penjual street food juga semakin beragam. Walaupun banyak penjual street food yang menganggukan kepala ketika saya bertanya apakah suguhan mereka mengandung babi, namun saya masih bisa menyantap Chicken wings, kue yang berisi telur, pancake manis dari wijen dan yang pasti, ditutup buah strawberry khas Korea yang manis.

Bersambung….

Seoul

3 Comments

  • Odengnya look delicious :D btw, cobain sepedaan di nami island juga ngak?

    • It is mas Fahmi…ketagihan dengan kaldunya sebenernya haha

      ga sempet nih sepedaan, terlalu banyak leyeh leyehnya haha…

  • yang jualan orang kita atau orang korea yg pande bahasa kita kak?

Leave a comment